Showing posts with label abg. Show all posts
Showing posts with label abg. Show all posts

Saturday, July 21, 2018

July 21, 2018

Cerita Sex Ngentot dengan Tante Ivone yang Sombong - www.ceritasexnesia.blogspot.com


Udara pagi ini terasa sejuk sekali, seakan menyambut baik datangnya hari Minggu ini. Secerah wajah tante Ivone yg tengah bercengkrama dengan bunga bunga ditaman. Meskipun nampak angkuh, namun keelokan wajahnya mustahil disembunyikan.

Aku baru saja berlalu mandi dan berniat ngeteh diteras lokasi tinggal sambil mnghirup udara pagi yg segar. Akan namun mataku menyaksikan tante Ivone tengah asyik merasakan keindahan bunga ditaman depan rumah. Dengan gaya ala petani bunga Cibodas, tante Ivone nampak srius mmperhatikan tumbuhan itu. ” Pagi tan ” sapaku. ” Hmm… ” balasnya tanpa berpaling dari rumpunan bunga. ” Mau aku buatin minum nda tan!? ” tanyaku lagi separuh menawarkan jasa. ” Nda usah!! ” jawabnya pun seraya membelakangiku. Aku tak menyaksikan tante Rita, Hendri ataupun Nita pagi ini. ” Ach, pada lari pagi kali? ” fikirku dalam hati.

Aku kmbali mmperhatikan tante Ivone yg mmblakangiku. Mulai dari betisnya yg putih mulus mskipun nampak kurus, pahanya yg lebih mulus dari betisnya, bokongnya meskipun trbalut clana pendek, tetapi trlihat jelas lekukannya. ” Coba dia dapat aku tiduri sperti tante Rita ya? ” gumanku dalam hati. Belum berakhir lamunanku,tiba mendarat kulihat tubuh tante Ivone trhuyung lemah hendak trsungkur. Dengan cepat aku mloncat dan mmegangi tubuhnya yg hampir trsungkur itu, mninggalkan saldo lamunan cabulku.

Kurangkul tubuhnya yg mulus dan trlihat lemas sekali. “Ga papa kan tan??” tanyaku sarat rasa khawatir, sraya mmapah tubuh tante Ivone. “Kpalaku trasa pusing Fad” jawab tante Ivone lemah. “Ya udah, tidur aja didalam” saranku seraya terus memapahnya ke dalam rumah. “Akhirnya aku dapat mrangkulmu Vone” ucapku dalam hati. Ada sjuta kebahagian dihatiku karna dapat mrangkul tubuh si sombong trsebut.

Stelah brada didalam rumah, dengan perlahan kududukan tante Ivone disofa ruang tamu. Dengan mnarik nafas tante Ivone duduk dan brsandar pada sandaran sofa. Stelah tersebut aku melangkah mninggalkannya sendiri. Tak brapa lama aku pulang dngn sgelas air hangat dan mnghampiri tante Ivone yg tengah brsandar disandaran sofa. “Minum dulu tan, biar enakan!” ujarku seraya mnyerahkan gelas brisi air hangat yg kubawa. Tante Ivone juga mminum air hngt yg kuberikan. “Makasih ya Fad” ucapnya lemah seraya mletakan gelas dimeja yg terdapat didepannya.

“Kpalanya masih pusing ga tan!?” tanyaku. Tante Ivone melulu mnganggukan kpalanya. “Mau dipijatin ga!?” tanyaku lagi. “E, em” jawab tante Ivone prlahan seakan tengah mnahan sakit. Aku juga sgera memijat mulai dari kpalanya dngn prlahan lahan, kmudian dahinya yg dia bilang mrupakan pusat rasa sakitnya. “Wah, knapa tante Fad!?” tanya Nita yg baru saja pulang. “Tadi si tante nyaris jatuh, kpalanya pusing Nit!” jawabku. ” Trlalu capek kali!? ” ujar Nita seraya mlangkah kedapur. “Dah aga mndingan Fad” jelas tante Ivone dngn mata terpejam, merasakan pijatan pijatan jariku. Terasa hangat dahinya brsamaan dngn rasa hangat yg menjalari tubuhku. Harum wewangian tubuh tante Ivone trasa mnusuk kedua lobang hidungku. Mmbuat aku hendak lebih lama lagi memijat dan dekat dngnnya.

“Masuk angin kali tan, dahinya aga anget ne!? ” jelasku, brupaya memancing supaya niatku tercapai. “Iya kali? “ujarnya pula, seakan mngerti akan makna ucapanku. Membuatku kian brani lebih jauh. “Mau dikerikin ga!?” tanyaku dngn sarat haraf kepadanya. “Memang anda bisa!?” tante Ivone balik brtanya. Membuat hatiku trasa brdebar tak karuan. “Ya bisa… ” jelasku dngn cepat, fobia tante Ivone brubah fikiran lagi. “Ya udah, namun dikamar ya…, ga enak disini” pinta tante Ivone. Mmbuat hatiku brdebar kian cepat. Dengan prlahanku papah dia mlangkah mnuju kamarnya. Akupun brusaha untuk menyangga dan mendinginkan hatiku. Yang mulai dirasuki niat dan fikiran kotorku.

Setelah brada didalam kamar, kusarankan supaya dia istrahat diranjangnya. Tante Ivone juga mrebahkan tubuhnya sraya brnafas panjang. Seolah olah terdapat beban berat yg dibawanya. Aku sgera brlalu mngambil obat gosok dan coin guna mengerik tubuh tante Ivone. Stelah kudapati smua yg kubutuhkan, aku pulang mnghampiri tante Ivone yg tengah menanti. Dengan mmbranikan diri aku memintamya supaya dia mlepaskan pakaian yg dipakainya. Dia juga prlahan mencungkil pakaian atau baju yg dipakainya. Shingga tante Ivone kini melulu mngenakan bra yg brwarna pink dan clana pendek saja. Ada getaran hangat mnjalari sluruh tubuhku, saat menonton tante Ivone mmbuka bajunya. Hingga mmbangunkan kjantanan dan hawa nafsuku. Yang memang sudah mngendap dibenakku semenjak awal, saat memprhatikan dia ditaman.

Dengan prasaan yg tak mnentu dan dibayangi nafsu dibenakku. Akupun mulai mngusap …

..usap punggung mulus yg mmblakangiku, dngn hati hati sekali. “Tali branya dimulai aja ya tan??” pintaku pnuh haraf seraya trus mngusap dan mengerik punggung bagus dihadapanku. “Iya… ” jawabnya lirih. Menahan kerikan dipunggungnya, entah sakit atau geli aku tak tau. Yang tentu tanganku sgera mencungkil kait tali branya, sampai-sampai mmbuat branya mlorot mnutupi sbagian payudaranya yg bulat dan berisi. Sperti payudara kepunyaan gadis kebanyakan. Stelah tiada lagi penghalang dipunggungnya, akupun membalurinya dngn minyak gosok. Dan jari jemarikupun menari mmbentuk garis dipunggung tante Ivone.

Sambil sekali kali mataku melirik kearah payudaranya yg brusaha ditutupi dngn bra dan kedua tlapak tangannya. Tapi urusan trsebut mmbuatku smakin terangsang didorong rasa pnasaran yg tramat. Smentara tante Ivone melulu trdiam sraya mmejamkan matanya yg bulat dan indah. ” Pelan pelan ya Fad!? ” pintanya masih dngn mata yg trpejam. Tiba mendarat pintu kamar prlahan terbuka, nampak Nita tengah brdiri dimuka pintu. “Tan aku mo kerumah tman dulu ya!?” ujar Nita brpamitan sraya matanya mlirik kearahku. “Iya Nit… ” balas tante Ivone tanpa brpaling kearahnya. Kmudian scara prlahan Nita mnutup pintu pulang dan brlalu pergi.

Jari tanganku mulai badung trhadap tugasnya, jariku trkadang nyelinap dibawah ketiaknya brusaha meraih benda yg bulat dan padat brisi yg ditutupinya. Tapi tangan tante Ivone terkadang brusaha mnghalanginya, dngn merapatkan pangkal lengannya. “Jari anda nakal ya Fad!? ” ucap tante Ivone stengah berbisik sambil mlirik ke arahku. Membuatku trsipu malu. “Habis ga powerful sich, tan…” jawabku jujur. Tapi tante Ivone justeru melepaskan branya shingga sekarang payudaranya nampak polos tanpa plindung lagi.

Dan langsung menjadi santapan kedua mataku tanpa brkedip. Langsung mmbuat hatiku brdebar debar mnyaksikan pemandangan trsebut. “Sekarang dapat kamu plototin pe puas dech!!” ujar tante Ivone tak lagi mnutupit buah dadanya dngn kedua tlapak tangannya lagi. Jantungku trasa bgitu cepat brdetak dan mmbuat lemas sluruh prsendianku. Kontolku brlahan tapi tentu mulai brdiri tegak mngikuti desakan hasratku.


“Memang dah berlalu ngeriknya Fad!?” tegur tante Ivone mngingatkanku. Mmbuat aku sgera mlanjutkan prkerjaanku yg trtunda sesaat. Hampir sluruh unsur belakang tubuh tante Ivone sudah kukerik dan brwarna merah brgaris garis. Hanya unsur bokongnya yg luput dari kerikanku karna trhalang dngn clana pendek serta CD yg dikenakannya. Tapi belahan bokongnya sudah puas kuplototin.

Akhirnya pekerjaanku berlalu juga. Kemudian dngn prlahan jari jariku memijati pundaknya. Tante Ivone mnundukan kpalanya, sekali sekali trdengar suara dahak dari mulutnya. “Sudah Fad!” printahnya, supaya aku mnyudahi pijatanku.

Dengan prasaan malas akupun mnghentikan pijatanku dan sgera mmbrsihkan saldo sisa minyak dikedua tlapak tngnku. ” Cuci tanganmu dulu biar bersih sana!!” pinta tante Ivone skaligus printah. Akupun branjak pergi kekamar mandi yg memang terdapat didalam kamar trsebut. Stelah usai mncuci sluruh tanganku sampai bnar bnar bersih. Akupun kembali mendekat tante Ivon yg tengah telentang diatas ranjang masih dngn suasana sparuh bugil. Sperti ketika aku tinggalkan kekamar mandi. Hingga payudaranya yg bulat dan brisi nampak mmbusung besar didadanya, dngn puting yg brwarna coklat susu. “Ayo Fad, anda mau mainin ini kan!?”. “Aku pun mau kok!?” ucap tante Ivone seraya mremas di antara payudaranya sampai putingnya mnonjol kearahku. Akupun mndekat mnghampirinya dngn perasaan nafsu. Membuat kontolku makin brdiri dan mngeras kencang dibalik clanaku.

Akupun tak mnunggu lebih lama, sgeraku remasi payudaranya yg mnantang. Tante Ivone brgelinjang ketika tlapak tanganku mndarat dan meremas kedua payudaranya. ” Achh.., iya Fad trussss ” rintihnya prlahan. Jari jemariku kian binal mremasi sluruh daging bulat yg padat brisi. JariQ pun memainkan putingnya yg mulai mngeras. ” Iya,.., mari diisep Fad.., aaaayooo “pinta tante Ivone dngn nafas taj tratur. Akupun sgera mnjilati dan mengisapi puting payudaranya. “Aduhhh…, enaaaak, trusss….” desah tante Ivone sraya mmegangi kpalaku. Aku smakin brnafsu dngn puting yg kenyal sperti urat dan mnggemaskan. Smentara tante Ivone smakin mndesah tak karuan. Tangan kananku meluncur kearah slangkangan dibawah pusar, trus mnyusup masuk diantara clana dan CD tante Ivone. Hingga jari jariku trasa mnyentuh rumput halus yg lumayan lebat didalamnya. Tante Ivone mmbuka pahanya tak kala jari tlunjukku brusaha masuk kedalam lobang yg terdapat ditengah bulu bulu halus miliknya. “Aowww…” jerit kecil tante Ivone ketika tlunjukku brhasil menginjak lobang memeknya. Dia juga mnggeliatkan tubuhnya sarat gairah nafsu. Smentara kontolku smakin mngeras berkeinginan kluar dari bahan yg mnutupinya.

Cukup lama jari tlunjukku kluar masuk didalam memek tante Ivone, sampai lobang tersebut mulai trasa basah dan lembab. Sampai kesudahannya tangan tante Ivone menyangga gerakan tanganku dan mminta mnyudahinya. “Aaaachhh.., udaahhh., Faddh.., aaachh” rintih tante Ivone. Akupun unik tanganku dari balik clananya dan mlepaskan putingnya dari mulutku.

“Buka pakaianmu dong, Fad!!” seru tante Ivone sraya bangkit dan mlepaskan clana pendek serta CDnya. Shingga dia bugil dan nampak rumput hitam ditengah slangkangannya yg baru saja ku obok obok. Akupun mlepaskan smua pakaianku dan bugil sperti dirinya.

Dengan senyum manis kearahku, tante Ivone menghampiri dan brjongkok tepat didepan slangkanganku. “Aouw, gede banget..!!” seru tante Ivone sraya tlapak tangannya mraih kontolku yg sudah brdiri dan keras. Dngn tangan kanan dia mmegang erat batang kontolku, sementara tlapak kirinya mngelus elus kpalanya. Hingga kpala kontolku trasa brdenyut hangat. Kmudian dimasukan kontolku kedalam mulutnya sraya matanya mlirik ke arahku. “Agghhh… “aku mlengguh tak kala sluruh kontolku tnggelam masuk kedalam mulutnya. Darahku brdesir hangt mnjalari sluruh urat ditubuhku. Aku melulu dapat memegangi kpala tante …

…Ivone, mremas serta mngusap belai rambutnya yg ikal sebahu. Smentara tante Ivone smakin liar, sbentar mngulum dan mngemud seakan dia hendak melumat sluruh kontolku. Trnyata dia lebih ganas dari tante Rita. Trkadang dia mnjilati dari batang sampai lobang kencing dikpalanya. ” Aaaaaaa… ” erangku menyangga rasa nikmat nan tramat. Trasa tubuhku melayang jauh tak menentu.

Entah brapa lama tante Ivone mngemut, mnjilat dan mngulum kontolku. Yg jelas urusan ini mmbuat tubuhku brgetar dan nyaris kejang. ” Gantian dong tan, aQ pun mau jilatin memekmu! ” rengekku, nyaris tak dapat mnahan nafsuku. Ingin rasanya memuntahkan terbit sebanyak banyak. Agar tante Ivone mandi dngn air maniku.

Tante Ivone sgera bangkit brdiri meninggalkan kontolku yg masih brdiri tegak. Kmudian aku mminta supaya dia duduk dikursi tanpa lengan yg ada. Akupun brjongkok mnghadap memeknya yg dihiasi bulu lebatnya. Kedua kaki tante Ivone trtumpu pada kedua bahuku. Maka mulutku mulai mnjarah memek yg tlah mnganga terkuak jari jemariku, sampai nampak jelas lobang memek yg brwarna merah dan lembab. Lidahku juga mulai mnjelajahi dan mnjilati lorong itu. “Aaaaowwh…, aaaa…, iyyyaaa.., trussss, aassstttssh” desah tante Ivone ketika lidahku brmain mnjilati lobang memeknya. “Aduuuhh,…, truuusss, lebihhh daallaaamm, aaah,… enaaakhh, agh, agh, aghhhh” rintihnya pula seraya mremas dan mnjambaki rambut dikpalaku. Lidahkupun smakin binal dan brusaha masuk lebih dalam lagi. “Aaaaghh,.., gilaaaa…, enaaaksss,.., ubss,.., aaaaachghhh” suara tante Ivone tak karuan. Lidahku brhenti mnjilati dinding lobang memek, sekarang brpindah pada daging mungil sbesar biji kacang hijau. Ku jilati itil yg brwarna merah dan basah dngn air mazinya dan air liurku.

“Aughh…..” suara tante Ivone sperti tersedak seraya mrapatkan kedua pahanya, sampai mnjepit leherku, saat ku isap itilnya. ” Aaaaa.., auwghhh…., yaaaaa ” ucap tante Ivone lirih. ” Udahhh…, Fad…, udddaah Faadd ” rengek tante Ivone sraya mndorong kpalaku dngn kakinya yg trkulai lemas dibahuku.

Akupun mlepaskan isapan mulutku pada itil tante Ivone dan bangkit brdiri dihadapannya dngn kontol yg masih tegak dan keras. Kemudian mminta tante Ivone supaya bangkit dari duduknya. Kini aku yg mnggantikan posisinya duduk dikursi.

Tante Ivone naik keatas pahaku dan tubuhnya mnghadap kearahku, sampai tubuh kami saling brhimpitan. Kmudian tante Ivone mmbimbing kontolku masuk kelobang memeknya dngan jarinya. ” Aagghhsss.. ” rintih kecil tante Ivone saat kontolku masuk menusuk memeknya. Tak lama kmudian bokongnya mulai turun naik, mngesek gesek kontolku didalamnya. Aqpun mngimbanginya dngn mmegangi pinggulnya mmbantu bokongnya turun naik. ” Aachhh.., yaaaa, oohhh, enaaak Fadd “. ” Auwwghhh…., aaaaaa…, oohhhh, yaaa ” racau tante Ivone tak karuan andai tubuhnya turun mnenggelamkan kontolku dimemeknya.


” Aauwww, aku ga tahan ne Fadd,…, aaaauwww, yessss ” rintih tante Ivone sraya mnggerakan bokongnya dngn cepat. Akupun mmbalas reaksinya, dengan melumat lagi payudaranya .”Aaaaaawhhh……..”erang tante Ivone seraya mnekan bokongnya lebih rapat dengan slangkanganku. Akupun mengejang mnahan desakan bokong tante Ivone. “Aaaachhhh…….” kesudahannya aku tak dapat lagi mmbendung cairan kental dari dalam kontolku. Kamipun saling brpelukan dngn erat sejumlah saat dngn brcampur peluh masing masing.

Stelah lumayan lama kami brpelukan, kamipun bangkit dngn malas, tak mau branjak dari keadaan yg ada. Stelah tersebut kamipun mandi mmbrsihkan tubuh kami masing masing yg basah dngn peluh syurga.

Akhirnya aku dapat menidurimu dan menaklukan keangkuhanmu Ivone Gienarsih.

Thursday, June 28, 2018

June 28, 2018

Cerita Sex Ngentot dengan Tante Binal - www.ceritasexnesia.blogspot.com

Rekan baikku ini menjadi kenikmatan khayalan hiburan seksual bersama. Cerita cewek hiperseks yang berusia 22 tahun ini mempunyai postur tubuh yang ideal dan menggoda. Dengan tinggi 165 cm dan berat tubuh selama 50 kg menciptakan tubuhnya proporsional. Belum lagi ukuran Payudara-nya yang berukuran 34B menciptakan pria manapun hendak melepas hasrat seks mesum dengannya.
Kulit hitam manis dan rambutnya tidak banyak ikal meningkatkan keindahan tubuhnya. Belum lagi unsur tubuh dari cewek hiperseks ini yang bakal bugil telanjang disaat beradegan seks mesum dengannya. Cewek hiperseks yang tidak jarang kali menggoda guna dikecup, dicumbu dan dihirup sepuasnya dan melepas gejolak birahi seksual pria. Inilah kisah seks mesum mengenai cewek hiperseks hot selengkapnya.
Lily, berusia 22 tahun. Dia ialah sahabat baik Ria. Posturnya 165 cm/50 kg. Payudaranya berukuran 34B. Orangnya hitam manis, rambutnya agak ikal. Matanya tajam masing-masing kali berkata seakan-akan menginvestigasi isi hati lawan bicaranya. Bibirnya penuh, tidak tebal, tidak tipis, paling seksi. Menurutku, unsur terseksi dari Lily terdapat pada bibirnya. Sangat menggoda guna dikecup, dicumbu dan dihirup sepuasnya. Apalagi bila Lily memakai lip gloss supaya membuat bibirnya tidak jarang kali tampak basah. Benar-benar menggoda. Wajahnya paling innocent alias bertampang tak punya dosa, terlihat lugu sekali.
Tapi tidak boleh salah, di balik wajahnya yang imut, terdapat nafsu birahi yang membara. Ada hasrat seks yang tidak jarang kali menggebu. Tiada hari baginya tanpa memikirkan sex. Aku mengetahuinya sesudah Lily berterus cerah padaku apa yang dia rasakan. Lily bercinta kesatu kali di ruang belajar 3 SMP, pada ketika usianya masih 15 tahun. Sejak umur 12 tahun, dia sudah mengerjakan masturbasi dan kemudian pacar kesatunya menemukan kegadisannya. Lily tidak pernah menyesali masing-masing momen seksualnya. Dia tidak jarang kali menikmatinya.
Suatu hari aku menerima SMS dari nomor handphone Ria..

“Hai Boy.. Lagi ngapain? Aku Lily. Kenalin yah! Aku sahabatnya Ria. Aku pengen kenal denganmu. Kalau anda bersedia, hubungi aku di nomor 081xx ya! Thanks” Aku segera membalasnya. Tetapi melewati nomor Ria.
“Hai lily.. Kamu kini dengan Ria? Mana si Ria? Aku inginkan dia SMS aku”
Saat tersebut aku lebih hendak bertemu Ria sebab aku telah lama tidak bertemu dengannya.
“Ria lagi mandi. Boy, anda SMS di hape-ku saja ya” Balas Lily.
Yah, aku tahu kelaziman Ria. Kalau mandi lama sekali. Boros air, boros sabun, boros shampoo, boros listrik, boros waktu.. Pokoknya boros. Tidak percaya? Bayangkan, dia mandi sekitar 45-60 menit! Ria sendiri yang bercerita padaku. Aku hingga terheran-heran. Atau aku saja yang tidak cukup pengetahuan mengenai lamanya perempuan mandi ya? Dibandingkan dengan lama mandiku yang melulu 10 menit, si Ria jauh lebih lama. Akhirnya aku menyimpulkan untuk ber-SMS dengan Lily saja si cewe hiperseks.
“Ada apa kok mohon SMS di HP-mu? Kan sama aja di HP-nya Ria..?” tanyaku.“Ah.. Biar lebih privacy saja. Boy, gila.. Ria udah kisah tentang apa yang kalian kerjakan di kamar ini!” Aku jadi terkejut. Wah, Si Ria suka membocorkan rahasia rupanya. Tapi aku jadi maklum pada saat menilik bahwa si Lily ini memang sobat baiknya. Ya, tidak apalah.
“Cerita apa lagi? Dia puas nggak?” tanyaku pada Lily.
“Puas, man! Katanya lo jago banget kissing-nya. Jago banget foreplay-nya! Jangan kepala besar ya!”, jawabnya.
“Wah.. Kalau kepala besar sih enggak. Kalo penis besar iya.. Haha..” balasku usil.
“Tapi katanya lo ga duratif ya? Ga lama lo udah terbit ya?”
Bum!! Aduh malunya aku. Si Ria, tega-teganya empiris kesatuku dikisahkan begitu.
“Ah, tersebut kan ML kesatuku. Wajar dong aku gak tahan lama. Kalau kini sih udah jago!” balasku membela diri. Cowok mana yang rela disebutkan tidak tahan lama?
“Ah yang bener.. Sekarang udah duratif nih?” goda Lily. Aku jadi penasaran dengan si Lily ini.
“Emangnya anda sendiri udah berani ML?” pancingku.
“Yah, elah.. Boy. Ya udahlah! Gue terus cerah aja ama lo. Gue suka banget tahu!”
Perkataan si Lily menciptakan penisku ereksi. Keterusterangannya paling langka kutemui. Biasanya perempuan akan menutupi hasratnya. Apalagi pada cowok yang baru kesatu ditemuinya. Tapi si Lily ini.. Berani sekali!
“Oh ya? Paling lo omong kosong doank..” pancingku lebih jauh.
“Hehe.. Lo mancing gue ya, Boy? Gak usah gitu.. Ntar malam telepon gue ya!”
Siang hingga malam aku bekerja seraya sesekali memikirkan Lily. Dunia ini memang luas, sarat keunikan. Dulu, melulu membicarakan urusan yang berbau seksual saja paling tabu. Tapi kini dengan kemerdekaan media, dengan kecepatan informasi yang nyaris tanpa filter, siapa pun dapat mencari dan menemukan apa saja yang ia mau termasuk sex. Informasi mengenai sex dapat dengan paling mudah diperoleh di internet. Tak heran dalam masa-masa singkat, kebiasaan ‘sex tersebut tabu’ sudah terkikis.
Aku paling yakin bahwa wanita laksana Lily, yang sangat merasakan sex, sangat tidak sedikit di Indonesia, tetapi melulu sedikit yang berani berkata, “Ya, saya suka dan merasakan sex”. Tetapi lambat laun, aku percaya bahwa jumlah wanita laksana Lily bakal semakin berkembang.
Malamnya aku menelepon Lily. Kami berbicara tidak sedikit hal. Tapi memang ulasan utama kami ialah sex. Lily mengakui dirinya cewek hiperseks. Tetapi dia tidak suka berganti-ganti pasangan. Dia punya pasangan tetap. Frekuensinya saja yang sering. Hampir masing-masing hari Lily bercinta. Gila.., aku bayangkan tentu lelah sekali masing-masing hari bercinta. Lalu kami pun menciptakan janji guna bertemu di rumahnya.
Dari lokasi tinggal aku mandi, menggosok gigi, menyiapkan dua buah kondom, handheld desinfectant dan membereskan bulu-bulu di wajahku. Aku memang tidak suka merawat kumis dan jenggot. Kurang bersih kesannya. Walaupun kucukur habis, tetap saja terlihat bila aku berbakat punya kumis. Justru tampak seksi, kata Ria dan Ita. Dengan tidak banyak parfum, kaos putih bersih dan jeans biru, aku berangkat ke lokasi tinggal Lily. Di sepanjang perjalanan aku menebak-nebak setangguh apa Lily, bagaimana aksinya di ranjang. Apakah agresif, pasif atau jangan-jangan suka yang aneh-aneh di atas ranjang laksana menyakiti dan disakiti?
Memikirkan Lily dan perilaku sex-nya menciptakan penisku berdenyut-denyut. Di bayanganku telah menari-nari sosok perempuan telanjang yang bakal bercinta denganku. Yang bakal kugumuli, yang bakal kucumbu, kenikmati sepuasnya. Ah.. sebentar lagi aku bakal bercinta.. Sebentar lagi aku bakal menghunjamkan penisku ke vagina Lily. Sebentar lagi..
Lily bermukim serumah dengan neneknya. Orang tuanya bekerja di luar negeri. Sewaktu aku datang, neneknya sedang pergi. Pembantunya sedang menyeterika baju sambil menyaksikan televisi. Lily menemuiku dengan menggunakan celana pendek dan kaos you can see. Seksi sekali. Darahku berdesir sesudah menyadari bahwa Lily tidak menggunakan bra. Wah.., jangan-jangan dia tidak gunakan celana dalam juga, pikirku. Lily segera menggandeng tanganku dengan mesra. Matanya melirikku nakal. Busyet nih anak, menggemaskan sekali, pikirku lagi.
“Udah makan, Say..?” tanyanya seraya jarinya menohok lembut perutku.
“Hm.. Udah. Kamu?” jawabku. Aku meremas jarinya.
“Ouch.. Kok diremas sih? Kalau yang ini udah makan?” tanyanya sambil melayangkan tangannya menyentuh penisku dengan cepat. Ugh.., penisku bereaksi. Lily ini pintar sekali menggodaku. Aku tertawa ringan. Memang penisku belum ‘makan’ lumayan lama.
“Kita masuk kamarku aja yuk.. Ada televisi di kamar” ajak Lily.
Aku melirik penolong Lily yang pun sedang melihatku. Kulihat penolong Lily tersenyum padaku seraya terbatuk-batuk. Wah, telah tahu gelagat dia rupanya, pikirku.
Kamar Lily lumayan luas. Ada televisi, lemari es, AC dan kamar mandi. Mirip dengan kamar hotel. Aku unik nafas panjang membayangkan kesenangan yang sebentar lagi aku peroleh.
“Hayo.. Mikir apa?” goda Lily seraya memelukku dari belakang.
Pintu sudah terkunci. Kurasakan kamar Lily paling dingin sebab AC. Pelukan Lily terasa hangat di punggungku. Bahaya sekali.. Dengan segala godaan dan stimulasi yang dilaksanakan Lily, menciptakan pikiranku sudah sarat dengan angan-angan sex. Sangat riskan karena bila angan-angan itu aku ikuti terus, aku bakal mudah diungguli Lily nantinya. Aku berjuang rileks mendinginkan pikiranku. Aku berjuang tenang.


“Gak mikir apa-apa kok.. Kamu sendiri mikir apa?” tanyaku. Aku memungut remote dan mengobarkan televisi. Kubaringkan tubuhku di atas ranjang. Spring bednya enak sekali. Sambil mendekap guling aku acuhkan Lily. Aku memilih menyaksikan TV. Lily ikut berbaring di sampingku.
“Aku mikirin anda Boy.. Sejak tadi malam aku gelisah” bisik Lily.
Lily sengaja membisikkan kata-kata tersebut di telingaku sampai membuat telingaku merinding. Ugh.., Lily menjilat telingaku! Aku paling sensitif di telinga, sampai-sampai jilatannya di telingaku seketika membangunkan birahiku. Mataku refleks memandangnya. Lalu Lily menciumku. Bibirnya yang seksi tersebut melumat-lumat bibirku. Oh.., dia tidak pun berhenti. Terus menerobos masuk, menghisap bibirku. Lidahnya menari-nari di rongga mulutku, menggali lidahku yang pun mulai menggeliat. Aku mulai meresponsnya. Kubalas hisapannya. Kubalas jilatannya. Kubalas dengan sarat semangat.
Aku menyukai teknik Lily menciumku. Tegas dan powerful sekali cumbuannya. Caranya memadukan bibirnya yang sarat dengan lidahnya yang lincah mengindikasikan pengalamannya dalam bercumbu. Nikmat sekali ciumannya. Nafasnya pun menunjukkan ketenangannya. Lily tidak terburu-buru namun dahsyat dalam mencumbu. Dia dapat mengatur nafasnya dengan luar biasa. Hembusan nafasnya semakin menghangatkan suasana. Apalagi matanya tidak pernah terpejam. Dia menatapku terus dengan berani.
Aku mencungkil ciuman kami kemudian bangkit berdiri dan minum. Aku mesti menata ritme sebab penisku telah mau meledak rasanya. Aku paling terangsang karena tersebut aku mesti mendinginkan diri. Baru minum seteguk, Lily telah merengkuhku kembali, membaringkanku dan aku ditindihnya. Lily pulang mencumbuku dengan tubuhnya di atas tubuhku.
Luar biasa, Lily semakin berani. Ciumannya semakin powerful dan cepat. Kadang dia menyerbu leherku. Menjilat dan sesekali menggigitku. Kemudian kembali menghirup telingaku. Tangannya pun tidak bermukim diam. Menjambak rambutku dan memegang powerful wajahku. Hebat, aku salut dengan lily. Cewek hiperseks yang satu ini dapat memaksimalkan potensinya. Ciumannya di bibirku pun tidak monoton. Ada saja variasi gerakannya. Caranya mengurangi bibirku, metodenya menghisap dan menjilat pun bervariasi. Nikmat sekali.
Perlahan aku menikmati pantat Lily bergerak. Dengan tenang Lily menggesek penisku dari luar. Saat tersebut kami masih sama-sama berpakaian. Wow.., ini ialah pengalaman kesatuku. Kurasakan penisku menggeliat bangkit. Semakin lama semakin tegang dan keras. Gesekan Lily menciptakan penisku berdenyut-denyut nikmat. Memang dahsyat goyangan cewek hiperseks ini.
“Enak, kan.. Boy?” bisik Lily. Ya kuakui enak sekali.
“Enak.. Tapi apa vaginamu dapat merasakan? Kamu kan masih menggunakan celana?” tanyaku hendak tahu.
Aku tidak yakin Lily menikmati hal yang sama dengan yang kurasakan.
“Bisa Boy, namun aku mesti menggesek dan mengurangi agak keras..” jawabnya.
Aku mengupayakan mengikuti alur permainannya. Sebetulnya aku sudah hendak menelanjanginya. Gesek menggesek begini memang nikmat, namun tetap saja jauh lebih nikmat bercinta langsung. Aku mulai bergerak memungut posisi duduk. Tanganku bergerak unik kausnya. Benar, Lily tidak menggunakan bra. Payudaranya langsung kusambut dengan mulutku. Aku benamkan mukaku ke belahan payudaranya. Menghisap putingnya dan tanganku mulai meremas payudaranya.
Lily pun menarik kausku. Perlahan Lily mulai menjawab mencium dadaku. Menjilat putingku dan tangannya unik lepas celanaku. Penisku menyembul dengan gagah. Direngkuh oleh tangan halus Lily. Penisku mulai diremas dan dikocok oleh tangan Lily. Tangannya pun memijat naik turun dari kepala ke pangkal penisku. Oh.., nikmatnya, aku telah lama menunggu saat-saat nikmat laksana ini.
Aku bergerak mengarah ke selangkangan Lily. Kulepas celananya. Benar dugaanku, dia telah tidak menggunakan celana dalam. Kurasakan vaginanya telah basah. Vagina Lily bersih dari bulu. Rupanya ia mencukur berakhir bulu kemaluannya. Kami pun memungut posisi 69. Aku membuka kaki Lily lebar-lebar dan mulai menjilati vaginanya. Pelan.. Aku merasakan vaginanya. Tanganku pun dengan terampil memicu vaginanya. Mencari klitoris dan g-spotnya.
Penisku sendiri kumasukkan ke mulut Lily. Sambil naik turun, penisku bercinta dengan mulut Lily. Cukup susah ternyata posisi 69. Tidak semudah yang tidak jarang kulihat di film-film biru. Baru sejumlah menit aku telah lelah sedang di atas tubuh Lily. Kami berganti posisi. Tetap 69 melulu saja posisiku di bawah. Dengan posisi ini Lily lebih aktif mengerjakan penisku. Oralnya hebat. Tangannya dapat bekerja sama dengan mulutnya sampai membuat penisku keenakan. Kami benar-benar melakukannya tanpa suara. Bagaimana dapat bersuara sedangkan mulut kami sedang sibuk mengoral satu sama lain? Hanya desahan nafas kami yang memburu.
Pikiran tenang ialah kunci bercinta. Setelah sukses menguasai pikiranku, aku jadi rileks. Oral dari Lily kunikmati dengan santai. Hasilnya, aku tidak menikmati gerakan orgasme dari penisku. Aku jadi tahan lama. Lily sendiri tampaknya tidak kuat menyangga gempuran oralku. Vaginanya semakin basah dan kesudahannya dia merasakan orgasme. Cairan orgasmenya lumayan banyak. Tubuh Lily mengejang sejumlah saat merasakan orgasmenya. Mulutnya melepas penisku.
“Aahh.. Hebat Boy. Oralmu dahsyat! Enak sekali!” puji Lily.
Pengalaman memang membuatku semakin hari semakin hebat. Aku terus memicu Lily. Kali ini kami pulang ke posisi normal. Aku memeluknya dari atas. Tubuhku menindih tubuh Lily. Tanganku tetap memicu vaginanya. Sementara mulut kami pulang bercumbu. Di sela-sela cumbuan, aku mengajaknya bicara.
“Kok cepat, tadi udah nyampe?” tanyaku.
Aku memang heran dengan Lily yang gampang orgasme dengan oral saja. Tidak sama dengan Ria, Ita atau Tante Yeni.
“Iya.. Aku memang gampang orgasme. Jadi, bikin aku multi orgasme, Boy..” jawab Lily.
Wah, beruntung sekali lelaki yang dapat bercinta dengan Lily. Tidak perlu sulit payah menciptakan Lily orgasme. Aku kembali menghirup Lily. Kali ini semua tubuhnya aku cium dan jilati. Mulai dari semua wajah, telinga, leher, payudara, perut, punggung, pantat, tangan dan kakinya! Semua aku jilat dan cium dengan lembut. Cukup santap waktu lama dan menghabiskan energiku. Tapi hasilnya, Lily mulai menggeliat menandakan birahinya mulai naik kembali. Aku mesti sabar dan dengan tekun merangsangnya. Titik lemah Lily ialah di vagina dan perutnya. Jadi aku memusatkan merangsang tubuhnya di dua titik itu. Pelan, refleks kaki Lily mulai tersingkap lebar. Vaginanya paling merah. Tanpa bulu kemaluan membuatnya terlihat segar. Aku sengaja menatapnya agak lama seakan menganalisis pusat kesenangan dunia itu.
“Aduh.. Malu.. Jangan dilihatin gitu dong..” rajuk Lily. Tapi tersebut cuma basa-basi. Kulihat Lily sangat merasakan vaginanya kuamat-amati.
“Indah sekali, Lily. Seksi sekali..” komentarku.
Ya, aku dengan bebas dapat mengamati vaginanya. Merah menggoda menantang. Terhidang sejelas-jelasnya di depanku. Vagina Lily tiba-tiba seakan hidup dan berkata, “Tunggu apa lagi? Ayo masuk!” Aku menyangga nafas. Penisku pun sudah berontak hendak menerjang masuk.
Perlahan, penisku menjebol vaginanya. Mulai kugerakkan tubuhku bercinta dengan Lily. Setiap gesekan penisku di vagina Lily kunikmati. Lily dengan terampil mengimbangi gerakanku. Tubuh kami bergerak selaras. Menyatu. Kami bercinta! Setiap kali penisku menggesek vaginanya, Lily mendesah. Lama-kelamaan suara Lily semakin keras. Aku pun tidak segan menerbitkan desahanku.
“Arg.. Arg.. Ya, terus.. Enak.. Kamu luar biasa..”
“Oh.. Terus.. Ya.. Ouch.. Oh..”
Berbagai macam kata yang tidak terkontrol terbit dari mulut kami. Kami terus saling memacu birahi. Memburu kesenangan tiada tara. Penisku terasa panas. Denyutannya semakin menjadi-jadi. Jika ambang orgasme tiba, aku berhenti sejenak. Kami berganti posisi. Kemudian bercinta lagi. Ganti posisi lagi. Bercinta lagi.. Enak sekali. Kami sama-sama tahan lama.
Kini aku memangku Lily. Agak sakit terasa di penisku saat Lily menurunkan tubuhnya sampai membuat penisku menjebol vaginanya. Desahan Lily semakin keras. Kami bersaing mencapai finish.
“Kamu siap, Boy? Aku punya teknik rahasia..” tanya Lily.
“Jurus apa..?” aku penasaran.
Tiba-tiba kurasakan vagina Lily mengapit penisku. Agh.. Enak sekali. Vaginanya laksana membesar dan mengecil, mengapit dan melepas penisku. Aku laksana dibawanya terbang semakin tinggi. Melayang semakin tinggi. Kenikmatan yang kurasakan semakin memuncak. Setiap detil tubuhku sarat dengan keringat kenikmatan. Begitu pula dengan Lily. Tubuhnya bergetar dan bergoyang merasakan percintaan kami.
Tak lama lantas aku mulai menikmati gelombang orgasmeku datang. Aku kembali menyangga diri. Kucabut penisku dan kami berganti posisi menjadi doggy style. Kembali aku memasukkan penisku. Lily menungging membelakangiku. Pantatnya sarat dan seksi. Aku menghunjamkan dan mengocok penisku dengan cepat dan kuat.
“Keluarin di mana nih?” tanyaku meyakinkan dimana aku mesti orgasme.
“Di dalam saja. Aku udah minum obat kok..”
“Arg.. Argh..” Hanya desahan nafas kami yang semakin memburu. Kami telah bercinta lumayan lama. Lily tangguh juga. Dia terlihat sangat merasakan ini semua. Wajahnya memerah dilanda birahi.
“Ayo lebih powerful dan cepat, Boy.. Aku sudah nyaris sampai..” ajak Lily.
Yah ini barangkali sudah saatnya. Aku memacu lebih cepat. Desahan nafas dan lenguhan kami kian cepat. Aku terus memompa penisku. Maju mundur, putar, maju mundur.. Terus hingga akhirnya kurasakan orgasmeku kian dekat. Lily pun semakin dekat.
“Iya.. Terus.. Terus..” teriak Lily.
Aku berjuang mati-matian menahan supaya tidak orgasme duluan. Otot-ototku berusaha memperlama ereksiku. Agh.. Nampaknya aku mulai tidak tahan. Sudah terlambat guna menghentikan ini semua. Sebentar lagi aku bakal orgasme.. Srr.. Crot.. Sr.., aku orgasme hingga tubuhku terkejang-kejang. Ada hentakan-hentakn di tubuhku ketika aku orgasme. Tapi aku masih tetap menghunjamkan penisku. Aku hendak mengantar Lily menjangkau orgasme keduanya.
“Ah.. Arh.. Argghh.. Ya.. Ya..”
Akhirnya tubuh Lily bergetar paling kuat. Tangannya memegang erat sprei dengan powerful dan menariknya! Matanya terpejam dan mulutnya tersingkap lebar menerbitkan jeritan panjang.. Lily orgasme! Aku hampir gagal membuatnya orgasme yang kedua kalinya. Untung sekali aku dapat bertahan lumayan lama. Aku berjanji bakal lebih baik lagi beda kali.
“Wah.. Maaf Lily.. Kamu powerful sekali. Aku hampir tidak dapat membawamu orgasme yang kedua..” aku mohon maaf dengan tulus seraya memeluknya.
“Wah.., aku yang makasih sekali ama lo, Boy. Kamu powerful lho.. Kita dapat orgasme sama-sama.. Aku senang sekali..” jawabnya melegakan hatiku.
Aku pulang menciumnya. Ini ialah after orgasm service-ku. Aku membelai-belai tubuhnya dan meremasnya dengan ringan. Memijat tengkuk dan punggungnya. Kami lantas bercakap-cakap. Dengan jujur Lily mengakui bahwa dia sangat memerlukan sex. Baginya memang sex ialah faktor utama. Dia mengakui tidak dapat hidup tanpa sex. Kemudian sampailah aku pada pertanyaanku..
“Kalau diajak memilih lelaki yang sex hebat namun dengan individu buruk atau lelaki dengan pribadi spektakuler tapi sex buruk, anda pilih mana?” Lily terdiam. Bingung.
“Gimana ya.. Mestinya aku inginkan pilih yang sex-nya hebat aja deh. Tapi kok ya tidak yakin. Itu pilihannya mengikat tidak? Maksudku.. Sampai pernikahan ya?”
“Iya.. Keputusan yang mengikatmu hingga tua. Sampai mati.” jawabku.
“Aduh.. Pusing. Yang mana ya? Sex hebat tapi bila tiap hari di sakitin, ditinggal selingkuh, tidak diberi nafkah, anak-anak ditelantarkan.. pun percuma. Tapi biar seluruh baik, bila tanpa sex ya nggak enak.. Gimana ya. Eh, namun dia tidak impoten kan?”
“Kalau tidak impoten gimana, bila impoten gimana?”
“Kalau tidak impoten, nggak apa-apa. Aku pilih yang pribadinya baik deh. Sex buruk dapat aku ajarin. Asal tidak boleh impoten permanen.” Lily mulai mengejar jawabannya.
“Kalau impoten?” desakku. Ini ialah pertanyaan yang sangat sulit dipilih.
“Wah.. Benar-benar bingung aku. Kalo gitu aku pilih yang sex-nya hebat aja deh. Mungkin pelan-pelan pribadinya dapat tambah baik..” jawab Lily. Pilihan yang masuk akal.
Aku lega kembali menemukan jawaban detil. Informasi pulang kudapatkan dari Lily. Yah.. Aku masih mesti bertanya pada Tante Yeni dan Ria.

Wednesday, June 27, 2018

June 27, 2018

Cerita Sex Ngentot dengan Tante Mia - www.ceritasexnesia.blogspot.com

Awal pertemuan ku dengan mbak mia masa-masa saya tertata antar jemput ponaan TK. Mbak mia yakni salah seseorang orangtua siswa di TK itu, kebetulan anak nya serta keponaan ku teman sekelas. Perkenalkan, nama ku Alfa, barusan usai kuliah di kampus negeri di Medan, pada ketika menanti panggilan pekerjaan, saya ditugaskan kakak ku guna antar jemput anak nya sekolah.

Jalinan ku dengan mbak mia dilangsungkan saat intensitas bersua kami yang teratur. Gambaran ku perihal mbak mia, kulitnya putih mulus, tinggi 165 cm, tubuhnya imut2, rambutnya sebahu dicat mawna manggis, dada nya tak terlalu besar, hanya segenggam saja rasa ku, tetapi sanggat bulat, memiliki format sangatlah indah, pantat nya pun bulat. Perjumpaan kesatu ku dengan mbak mia ketika acara memberi warna yang diadakan sekolah dengan di antara mall. Acara digarap sepulang sekolah, waktu tersebut keponaan ku maksa agar amel anaknya mbak mia turut berbarengan kami, pada akhirnya kemauan mereka ku iyakan. Tetapi tampak muka sunggkan mbak mia.

Mbak mia : aduh, dek. Bagaimana? Nga ngerepotin kan andai kami numpang sama adek.
Saya : ya gpp sih buk. Kan sekalian, lagian anaka2 pun kelak diperjalanan bisa main.
Mbak mia : duh, makasi lo.
Saya : yaudah, anda pergi ketika ini? Kita naik mobil saya saja ya, mobil ibuk sini saya parkirin di halaman sekolah.
Mbak mia : oke! Segera mbak mia menyodorkan kunci mobil nya.

Mobil honda brio hitam punya mbak mia sangatlah enak harumnya, kuperhatikan seisi mobil, sangatlah rapi. Ada hal unik kudapati dari isi mobil mbak mia, di jok belakang kutemukan G-string merah maroon yang sangatlah seksi komplit dengan stempel harga. Pikir hati ku barangkali saja terjatuh dari belanjaan mbak mia. Sesudah kuparkirkan, saya terbit serta kami pergi.

Perjalanan ke acara memberi warna memanglah tdk demikian jauh, hanya saja macet nya jalanan buat perjalanan jadi sangatlah lama. Disela2 kemacetan itu, kuamati gerakan badan mbak mia yang duduk percis disamping ku. Dengan stelan lejin hitam ketat dipadukan dengan kaos ketat serta cardigen, mbak mia terlihat sangatlah seksi.

Tiba2 saya terperanjat, mbak mia membuyarkan lamunan ku.
Mbak mia : hey, uda lampu hijau tuh. Ngelamun saja.! Sembari dia senyum. Ngelamunin apa sih?
Saya : ah, nga buk, nga ngelamunin apa2, melulu menghayati lagu diradio ini saja.
Mbak mia : ohhh. Eh, btw nama kamu siapa, anda uda sekitar ini perjalanan masih tetap saja belum kenalan.
Saya : nama saya alfa buk, bila ibu?
Mbak mia : saya mia, panggil saja mia atau mbak mia. Stop panggil saya ibu, apa saya se ibu-ibu tersebut yah?
Saya : eh, ia deh mbak. Nga kok, mbak masi terlihat muda, masi keliatan ketat lagi.
Mbak mia : KETAT? Ketat apanya? Sembari mbak mia mengamati tubuhya.
Duh, keceplosan nih. Ingin ngeles apa nih. Apa jujur saja?
Saya : anu mbak, tersebut yg ketat. Sembari saya nunjuk kesembarang tempat. Sembari mata fokus kedepan.
Mbak mia : oh, ini toh yg ketat!
Tiba2 saya ngecek posisi tanggan ku, nyatanya percis didepan dada mbak mia. Aduh, malu besar.
Saya : sorry lo mbak, bukannya nga sopan, melulu saya sembarang nunjuk saja, nga ada keinginan nunjuk tersebut nya mbak.
Mbak mia : heeehhe, gpp lagi, mbak pun senang bgt sama format dada mbak, masi terus kenceng. Sembari dia tersenyum manis.

Anak2 tidak menghiraukan kami, mereka berdua repot main game di ipad ku.
Sesampainya di mall, anaka2 segera kami antar kan ke lokasi anak2 yang beda ngumpul. Terlihat telah disiapkan paket makanan mekdi guna anak2 peserta serta anak2 yang tentu sudah dikordinir gurunya. Lantaran uda tengah hari perut pun mulai lapar. Tiba2 mbak mia ngajak makan. Kami pun kerestoran seafod dilantai 3. Selama perjalanan mbak mia jalannya mepet ke tubuh ku. Ku singkap tangan ku kedepan sampai pinggul kami melekat. Dalam hati mbak mia ini tunjukkan tanda.
Selama santap kami tidak sedikit cerita, perihal kuliah ku, kedudukan LDR ku sama pacar yang masih tetap kuliah di jawa.

Saya : ayah nya amel nga pernah jemput mbak, kerja di mana?
Mbak mia : mbak uda setahun menjanda, cerai lantaran tidak sedikit pertikaian. Sembari mbak mia melepas cardingannya lantaran cukup gerah lantaran restorannya padat serta akibat makan pedas. Serta nyatanya mbak mia cuma pakai pakaian yukensi. Waw!! Saat tersebut juga lgsg saya horni simak mbak mia, bayang-bayang BH hitaam mbak mia buat ku sangatlah terangsang. Pembicaraan pulang ku teruskan.

Saya : berarti mbak mia single parent dong ya setahun ini. Trus G-String nya bikin apa mbak. Aduh, pulang saya keceplosan.
Mbak mia : G-string? Kok? Mbak mia bingung.
Saya : aduh mbak, tadi saya simak terdapat G-string di mobil mbak. Maaf mbak, saya keceplosan.
Mbak mia : yauda lho, gpp. Ia, mbak seneng bgt gunakan g-string. Terkadang siap mandi malam mbak berniat pakai, trus selfie didepan kaca. Narsis2an gunakan g-string. Saat ini pun pakai g-string.
Mendengar kisah mbak mia, burung ku melulu dapat ngaceng sekeras2 nya.
Mbak mia : emg pacar mu nga memiliki gituan?
Duh, petanyaan mbak mia menjebak.
Saya : terdapat sih mbak, tempo hari pernah dia liatin dikit ketika dia make.
Mbak mia : dikit doang? Pelit paling pacar kamu ngasi dikit doang.
Saya : hehe, ia sih. Maka dari tersebut saat ini masi membayang2kan.
Mbak mia : duh kasian, kelak andai ada ketika mbak liatin deh memiliki mbak. Mbak mia merayu.
Saat tersebut juga laksana disambar petir mendengar ucapan mbak mia. Kemudian acara usai, mbak mia serta amel kuantar ke sekolah untuk memungut mobil. Saat sebelum berpisah mbak mia mintak tukeran pin. Segera ku accept.

Malamnya ketika sebelum tidur, ponsel ku bunyi, pesan dari mbak mia, sungguh terperanjat saya mbak mia kirim photo nungging dengan gstring ungu. Berapakah detik lalu, di kirim photo pusar nya dengan tali gstring serta jembut tidak tebal. Kemudian bertubi2 mbak mia kirim photo syurnya. Nafsu ku uda dipuncak, kupelorotkan celana ku, ku kocok burungku dengan sangatlah lembut. Desahan ku, kurekam kukirim ke mbak mia serta masa-masa puncaknya peju yg meleleh di burung ku, ku photo serta kukirim sama mbak mia. Mbak mia menjawab dengan kirim voice note, dengan suara mendesah mbak mia ngomong ” alfa, kelak sesudah antar sekolah, anda ngentot ya sayang, mbak uda hilang memori malam ini anda bikin, pepek mbak uda denyut. Anda harus tanggung jawab.

Besok paginya, ketika sebelum pergi berniat saya mandi bersih serta harum. Kuantar keponaan ku, setelah tersebut segera ku buntuti mbak mia yang sudah jalan didepan. Rumah mbak mia yang cukup besar dengan garasi yang bisa menyimpan dua mobil segera ditutupnya rapat. Burung ku uda sangatlah kuat menyangga gairah bercinta dengan mbak mia. Turun dari mobil, mbak mia segera hampiri ku, dipeluknya segera badan ku, tangannya segera dielus2 keseluruh badan ku. Disingkapnya kaos ku, saya yang cuma menggunakan boxer segera ditelanjangi nya. Diemut emutnya bibir ku sampai ke lidah. Eummmh, alfa, sayaaaaang,, huwhhh, desah mbak mia. Tangan ku dengan sigap buka daster nya, nyatanya mbak mia tak memakai dalaman apa pun. Dada nya menggantung sangatlah indah, puting cokelat mudanya tegang menantang guna dihisap. Ku hisap puting mbak mia, sembari mengelinjak tangan nya main diburung ku. Di kocoknya, enak sekali terasa.

Mbak mia : faa, masukin.. Mbak uda hendak dientoti sama alfaaa.. Cepat sayang, emuuah.
Ku angkat mbak mia keatas kap depan mobil ku. Kulentangkan dia, bulu kemaluannya yg tidak terlalu lebat mencuat kepermukaan, ku jilati klitoris mbak mia, kusedot sampai dia menjerit nikmat.
Mbak mia : faaa, enak syang, terusin. Sedot sayang. Eummhhh, ahhhhh… Sayang. Sembari ditekan2 nya kepala ku salah satu memeknya.

Tidak Tahan lagi, burung ku pun ku gesek2kan ke memek mbak mia, muka mbak mia memerah, nafasnya tersekal, tidak teratur. Hingga pada kesudahannya kumasukkan kepala burung ku, kumain2kan disetengah dalam memek mbak mia.

Mbak mia : masukin sayang, masukin seluruhnya.. Ahgggghhh. Mbak uda hendak dientotin sama anda, mbak uda lama nga menikmati ini. Mari sayang. Mbak mia memelas manja, sembari pinggul ku ditarik2nya supaya burung ku amblas kedalam. Tetapi mbak mia kubiarkan rasakan kegatalan ini. Hingga selanjutnya ku amblaskan seluruhnya burung ku kedalam memek nya, kuhentak sampai mbak mia menjerit. Oucccchhhh sayang, enakkkk. Enak sayang.. Uuuuuwhh, uwwwwh sayang. Ku enjot mbak mia tampa ampun, dengan sangatlah brutal ku entoti mbak mia.. Suaranya terputus2, tak tahu apa yang disampaikannya, namun mbak mia sangatlah menikmatinya, tangannya memeluk punggung ku, merasa kuku-kukunya dikulit ku.
Mbak mia : lagi sayang, yg kencang sayang, bikin mbak terangsang sayang, bikin mbak mucrat dahsyat sayang. Ouchhh, ugghhhh. Uhhhhhh. Enak alfaaaa, kamu benar2 powerful faaaa. Uhhhh. Kepala burung ku merasa mendenyut, kelihatannya bakal meletus.
Saya : mbak, ditembak di mana, saya hendak keluar nih, mbak…. Mmmhhhh, ahhh. Sembari ku pompa tidak jarang kali memek mbak mia.
Mbak mia : di dalam saja sayang, anda samaaaaa, mbak pun uda tidak tahan, hendak keluarrrrr. Occccchhhh.

Tubuh mbak mia menegang, cengkramannya kian kencang.
Mbak mia : faaaa, mbak nga kuat, anda keluarin ya sayangg ku, uuhhhhhgggg, ahhhhh.. awhhhhhh..
Saya : ia mbak. Kusemprotkan mani ku di dalam memek mbak mia, merasa hangat. Mbak mia terkulai lemas sinyal senang.

Kulihat jam didinding menyerahkan jam 10 pagi, TK tentu belum pulang. Tanpa terdapat bertanya segera ku angkat mbak mia kedalam rumah.
Saya : mbak, saya hendak mbak yang di atas, saya hendak WOT.


Mbak mia : ia sayang, anda main didepan tivi saja ya. dengan posisi burung ku yang masi menancap di memek mbak mia, kuangat dia dengan sangatlah gampang. Kusandarkan tubuh ku disofa depan tivi. Ouh…. Mbak mia menjerit kecil. Sayang, masa-masa nya mbak yang puasin kamu ya. Pinggul mbak mia mulai menggoyang kedepan kebelakang. buah dadanya yang gantung2 sangatlah menggairahkan. Ku remas buah dadanya. Goyangan mbak mia sangatlah luar umum, yang bikin horni berat itu, ekspresi mbak mia yang memejamkan mata nya, sembari bibir bawahnya digigit-gigit kecil. Sunggu menggairahkan. Pada kesudahannya sesudah 30 menit ngesex ronde ke-2, kami pun klimaks lagi. Mbak mia menjatuhkan seluruhnya tubuhnya di atas tubuh ku. Sembari ku ciumi berwajah, kubisikkan kata2 nakal. Kemudian kami mandi berbarengan, di dalam kamar mandi pun kami kerjakan blowjob.

Hingga kini ini, saya masi tidak jarang kali bersangkutan dengan mbak mia. Kami teratur kerjakan jalinan seks, sangatlah bebas. Serta kuakui saya tergila2 dengan memek ruang belajar dunia memiliki mbak mia.

Friday, June 15, 2018

June 15, 2018

Cerita Sex Ngentot Dengan Kakak Ipar - www.ceritasexnesia.blogspot.com

Tentu saja kedatanganku disambut gembira oleh pasangan muda itu, khususnya oleh kakakku, Mbak Elin (nama samaran). Kelihatannya ekonomi kakakku masih paspasan. kisah sex Rumah yg dikontrak ialah rumah petak dan melulu berkamar istirahat satu, ruang tamu kecil dan ruang santap merangkap dapur, serta kamar mandi kecil. Dgn situasi rumah laksana itu, aku darurat tidur bersamasama Mbak Elin dan suaminya Mas Ari.

Aku istirahat di sebelah kanan, Mbak Elin di tengah dan Mas Ari di sebelah kiri. Malam tersebut aku berbincangbincang dgn kakakku hingga larut malam, kulihat Mas Ari sdh tertidur lebih dulu. Sampai kesudahannya kami kehabisan kisah dan tertidur. Kurang lebih jam 04:00 pagi Mbak Elin bangun dan terbit kamar guna urusan dapur. Aku tahu ini ialah kebiasaan sewaktu remaja. Dia tidak jarang kali bangun sangat awal.

Cerita dewasa terbaru, Sebenarnya aku jg terjaga saat ia turun dari lokasi tidur, namun aku tetap di lokasi tidur sebab malas. Dalam keremangan lampu 5 watt, kulirik Mas Ari kakak iparku yg masih kelihatan istirahat pulas di sebelahku tanpa terhalang oleh tubuh Mbak Elin, walaupun jarak kami lumayan jauh.Dalam tidurnya yg telentang dgn mengenakan piyama warna abuabu, tanpa sengaja kulihat ke arah selangkangannya. Kulihat sesuatu yg mencuat tinggi dari balik celananya.

Hatiku berdesir terdapat perasaan hangat menyelusuri tubuhku, kutahan nafasku. Aku tdk berani bergerak dan aku tetap purapura istirahat walaupun kupincingkan mataku untuk merasakan pemandangan yg syuur itu. Tibatiba Mas Ari mengembalikan badan menghadap ke arahku, kupejamkan mataku. Aku purapura masih tertidur lelap. Tibatiba kurasakan tubuh Mas Ari digeserkan mendekatiku, entah disengaja atau tdk, namun gerakannya paling hatihati, barangkali takut aku terbangun.


Aku tetap purapura masih istirahat dalam posisi telentang, jantungku berdegup keras, aku tdk tahu apa yg mesti kuperbuat. Kuatur nafasku, hendak rasanya aku melompat turun dan terbit kamar. namun desiran hangat yg mempercepat peredaran darahku membuatku membatalkan niatku.Tangan Mas Ari laksana tanpa sengaja menempel ke tanganku, aku tetap tdk bergerak. Tdk berapa lama, kurasakan tangannya menindih tanganku, dan itu lumayan lama hingga aku bingun mesti melakukan apa. Ketika dilihatnya aku diam saja, kurasakan dia mulai membelai lengan dgn lembut dan kurasakan kehangatan yg paling menyenangkan.

Tangannya terus membelai ke atas leherku, aku menyangga kegelian. Melihatku diam saja, Mas Ari semakin berani dan tangannya mulai turun guna merabaraba buah dadaku dari luar daster. Tdk lama kemudian, tali daster dan tali BHku diturunkan dan tangannya menerobos masuk ke dalam buah dadaku. Aku menggelinjang saat jarinya meremas buah dadaku dgn lembut, dan mengeluselus puting susuku.

Nafasku memburu, aku kian terangsang, bahkan Mas Ari tanpa sadar sudah merapatkan tubuhnya ke tubuhku. Kaki kirinya sudah menindih kedua lututku yg diam mustahil berontak, sebab hasratku membuatku bingung. Kurasakan penisnya yg sudah mengeras di balik piyamanya menempel ketat di pinggul kiriku. Dan aku masih purapura tidur.

Dilepaskan tangannya dari BHku, tangan kirinya merayap di pahaku, kemudian menyusup di bawah daster dan membelai paha atas unsur dalam dan kesudahannya berhenti di pangkal paha. Dielusnya dgn lembut bibir kemaluanku yg masih rapat terbungkus dgn celana dalam, kurasakan kehangat dan perasaan nikmat mengalir di dalam dinding kemaluanku.

Elusan di atas celana di depan memek, kadangkadang diselipkan jari tanganya dari samping celanaku menciptakan dinding memekku berdenyut lembut dan enak. Aku menikmati bahwa kepunyaanku sdh basah. Tiba saatnya Mas Ari memasukkan tangan kirinya ke dalam celanaku melewati pusar, ketika tersebut aku sadar dan aku takut bila Mbak Elin tibatiba masuk, maka kupegang tangannya dan kutahan supaya Mas Ari tdk meneruskan niatnya. namun tangannya tdk mau terbit dari celanaku dan aku tetap menahannya.

Kubuka mataku, kutatap wajahnya. Mas Ari tersenyum, namun aku tdk dapat menjawab senyumnya. Aku hendak marah kepadanya atas kelancangannya, namun aku tdk dapat, sebab dalam gejolak rangsangan yg membuaiku sebetulnya aku sdh kehilangan rasioku. Aku menikmatinya dan penolakanku lebih mempunyai sifat kekhawatiranku akan timbulnya Mbak Elin dari pintu kamar yg tdk terkunci. Dalam suasana demikian kuarahkan pandanganku ke pintu kamar. Mas Ari menciduk apa yg kumaksud.

Ditariknya tangannya dari celanaku, dan dia segera turun dari lokasi tidur dan segera menguncipintu kamar. Aku tdk tahu apa yg mesti kuperbuat, seharusnya aku bangun dari lokasi tidur dan segera terbit kamar, sampai-sampai dapat terhindar dari tindakan Mas Ari yg lancang itu, namun tdk. Bagian dalam memekku masih berdenyut dgn lembut, aliran darahku dan birahiku masih belum turun dari kepala. Sensasi ini belum pernah terjadi sebelumnya, bahkan dgn pacarku saja aku masih sekedar bergandgn tangan saja. Entah apa yg kubayangkan ketika itu.

Kubalikkan tubuhku menghadap tembok membelakangi Mas Ari yg pulang dari arah pintu. Direbahkannya tubuhnya rapat di belakangku sambil unik pundakku ke arahnya, sampai-sampai aku pulang dalam posisi telentang dan dia mengupayakan menciumku, namun aku mengelak dari ciumannya. Kugelengkan kepala ke kiri dan ke kanan, hingga akhirnya Mas Ari dapat menangkap mulutku dgn mulutnya. Saat tersebut aku sdh tdk bisa lagi menyangga kuasa nafsu birahi dari dalam tubuhku yg masih perawan ini.

Itulah kesatu kalinya aku dihirup oleh seorang lakilaki, aku masih bebal ketika dia menyedot dan menjilat bibirku. Aku tdk menyerahkan tanggapan yg seharusnya perempuan berikan saat dicumbu seorang lelaki, aku masih kaget, nafasku tdk beraturan, namun nafsuku bangkit kembali. Tanpa sadar kupeluk pundaknya eraterat saat tangannya meremasremas buah dadaku. Kurasakan payudaraku mulai mengeras, lagipula ketika puting susuku dipelintir ke kanan dan ke kiri berulangulang dgn lembut. Sensasinya sungguh diluar dugaanku.

Ketika bibirnya mulai menjalar ke leherku, tangannya pindah dari dada ke arah selangkangan, kubiarkan Mas Ari membuka ujung bawah daster dan menelusup ke bawah celana dalam. Diusapusapnya rambut kemaluanku untuk sejumlah lama, dan lantas jari tangannya mulai terasa menggesek dinding memek dan lantas ke atas ke arah klitoris.
Aaahh.., terdapat rasa ngilu yg paling nikmat.

Beberapa lama jarinya membelai dan menggeletarkan klitorisku, tanpa sadar kuikuti iramanya dgn menggoyang pingulku. Kenikmatan sdh menjalar ke semua kelamin, ke pinggul dan bahkan ke unsur pantatku. Aduh nikmat sekali.

Aku mengerang dan mendesah pelan sarat kenikmatan. Ketika Mas Ari unik tangannya dari dalam celana, aku merasa kecewa, ternyata tdk, ia ternyata mencungkil celananya ke bawah sampai-sampai penisnya yg sudah berdiri dgn kokoh menyeruak keluar. Kepala yg membesar sudah mengkilat. Dibimbingnya dgn lembut tangan kiriku ke arah penisnya dan aku tdk kuasa lagi menolaknya. Kugenggam dan kuremasremas dgn lembut batang panjangnya.

Inilah kesatu kalinya aku menyaksikan sekaligus menyentuh perangkat kelamin seorang lakilaki. Dadaku bergetar sarat birahi, lantas ketika jarinya pulang memainkan klitorisku, sedang jari lainnya semakin masuk ke dalam liang senggamaku, maka kukocok penisnya semakin cepat.

Kudengar nafasnya mengejar disertai desis yg pendek dari mulutnya. Dinding dalam liang kewanitaanku berdenyut semakin dalam. Kujepit jarinya dgn bibir bawahku, aku tdk tahan lagi, kesenangan sdh menjalar sampai ujung rambut. Tibatiba denyutan yg powerful datang dari arah liang rahimku. Aku menyangga nafas, aku menggelinjang dan kujepit jarinya dgn kuat. Aku telah menjangkau puncak, liang kewanitaanku berkedutkedut dgn kuat.

Aahh.., dan pada ketika yg nyaris bersamaan, Mas Ari menekankan pinggulnya ke pahaku, dan penis yg berada dalam genggamanku terasa berkedutkedut dgn kuat, dan kurasakan air maninya menyemprot dan mengairi pahaku.

Aaahh.., melulu desisan yg bisa kukeluarkan dari mulutku.

Beberapa detik aku terbaring dgn lemas bersebelahan dgn tubuh hangatnya Mas Ari. Dgn malas aku bangun, kubuka pintu kamar dan segera aku ke kamar mandi. Aku fobia bertemu Mbak Elin yg masih sibuk di dapur menyiapkan sarapan pagi kami.


Saat di kamar mandi, aku sempat menginginkan sensasi kesenangan yg berlangsung sejumlah menit yg lalu. Ada perasaan senang bercampur dgn perasaan fobia bergejolak di dalam diriku ketika kubersihkan kemaluanku di kamar mandi. Mas Ari masih telentang di lokasi tidur seraya tersenyum menatap wajahku saat aku terbit dari kamar mandi dan langsung mengarah ke ke dapur menolong Mbak Elin yg tdk memahami adanya sensasi estetis di kamar itu.

Hari tersebut jg kuputuskan aku mesti pulang ke kotaku, aku tdk mau urusan tersebut terjadi lagi. Bukan aku tdk menyukainya, namun aku tdk hendak rumah tangga kakakku menjadi berantakan garagara kehadiranku yg membangunkan birahi suaminya. Mbak Elin kaget saat aku pamitan guna pulang. Aku memberikan dalil bahwa terdapat tugas kuliah yg tak sempat kuselesaikan.

Thursday, June 14, 2018

June 14, 2018

Cerita Sex Ngentot Dengan Amoy Semok - www.ceritasexnesia.blogspot.com

Sejak peristiwa sexku dengan Diana aku semakin aktif untuk mengekor senam, yach biasa untuk mengalirkan hasratku yang menggebu ini.

Kegiatan ini seluruh tentunya pun rapi sebab ku nggak kepingin istriku tahu urusan ini. Suatu saat aku diperkenalkan pada teman-teman diana satu kelompok, dan pinter sekali bersandiwara dengan berpura-pura sudah bertemu denganku pada sebuah pesta pernikahan seseorang sampai-sampai temannya tidak terdapat yang curiga bahwa aku telah bersangkutan dengan diana.


Hari ini, seusai senam jam 08.30 aku mesti langsung kekantor guna mempersiapkan pertemuan urgen nanti siang jam 14.00. Kubelokkan kendaraanku pada toko buku untuk melakukan pembelian perlengkapan kantor yang kurang, ketika aku asyik memilih tiba-tiba pinggangku terdapat yang mencolek, ketika kutoleh dia ialah fifi rekan diana yang tadi dikenalkan.

“Belanja Apa De…, kok serius banget…”, Tanyanya dengan senyum manis.
“Ah enggak cuman tidak banyak untuk keperluan kantor aja kok…”
Akhirnya aku terlibat pembicaraan ringan dengan fifi. Dari pembicaraan tersebut kuperoleh bahwa Fifi ialah keturunan cina dengan jawa sampai-sampai perpaduan wajah tersebut manis sekali kelihatannya. Matanya sipit namun alisnya tebal dan…, Aku pulang melirik kearah dadanya.., alamak besar sekali, kira-kira 36C bertolak belakang jauh dengan diana sahabatnya.
“Eh.., De aku terdapat yang pengin kubicarakan sama anda tapi tidak boleh sampai tahu diana ya”, pintanya seraya melirikku sarat arti.
“Ngomong apaan sih.., serius banget Fi…, apa perlu?”, tanyaku sarat selidik.
“Iya butuh sekali…, Tunggu aku sebentar ya…, anda naik apa..”, tanyanya lagi.
“Ada kendaraan kok aku…” timpalku penasaran. Akhirnya kuputuskan Fifi ikut aku walaupun mobilnya ada, nanti bila omong-omgngnya sudah berlalu Fifi tak antar lagi ketempat ini.
“Masalah apa Fi anda kok serius banget sih…”, tanyaku lagi.
“Tenang De…, ikuti arahku ya…, santai saja lah…”, pintanya.
Sesekali kulirik paha Fifi yang putih tersebut tersingkap sebab roknya pendek, dan Fifi tetap tidak berjuang menutupi. Sesuai tuntunan arah dari Fifi kesudahannya aku menginjak rumah besar serupa villa dan dikisahkan oleh Fifi bahwa tempat tersebut biasa digunakan untuk persewaan.

“Ok fi kini kita kemana ini dan anda mau ngomong apaan sih”, tanyaku tak sabar, sesudah aku masuk ruangan dan Fifi mempersilahkan duduk.
“Gini De langsung aja ya…, Kamu pernah menikmati Diana ya..?”, tanyanya.
Deg…, dadaku berguncang mendengar ucapan Fifi yang ceplas ceplos itu.
“Merasakan apaan sih Fi?”, tanyaku pura-pura bodoh.
“Alaa De tidak boleh mungkir aku dikasih tahu lho sama Diana, dia mengisahkan bagaimana sukanya dia menikmatimu…, Hayooooo masih mungkir ya…”.
Aku melulu diam tetapi sedikit grogi juga, nampak wajahku panas mendengar penuturan Fifi yang langsung dan tanpa sungkan tersebut. Aku terdiam sedangkan Fifi merasa diatas angin dengan bercakap panjang lebar seraya sesekali dia senyum dan menyilangkan kakinya sampai-sampai nampak pahanya yang mulus tanpa cacat. Aku melulu cengar cengir saja mendengar seluruh omomgannya.
“Gimana De masih inginkan mungkir nih…, Bener seluruh kan ceritaku tadi…?”, Tanyanya antusias.
Aku melulu tersenyum kecut. Kuperhatikan Fifi meninggalkan lokasi duduknya dan tak lama kemuadian dia terbit sambil membawa dua gelas air minum. Fifi pulang menatapku tajam aku laksana tertuduh yang menantikan hukuman. Tak lama berselang pulang Fifi berdiri dan duduk disampingku.

“De…”, sapanya manja.
Aku melirik dan, “Apa?”, jawabku kalem.
“Aku mau laksana yang kau kerjakan pada Diana De…”, aku tidak banyak terkejut mendengar pengakuannya dan tanpa melemparkan waktu lagi kudekatkan bibirku pada bibirnya.
Pelan dan kurasakan bibir Fifi hangat membara. Kami berpagut bibir, kumasukkan lidahku ketika bibir Fifi terbuka, sedangkan tanganku tidak bermukim diam. Kusentuh lembut payudaranya yang kenyal dia tersentak kaget. Bibirku masih bermain semakin larut dalam bibirnya. Fifi kelihatan merasakan sekali sentuhan tanganku pada payudaranya. Sementara tangan kananku mengelus lembut punggungnya. Fifi semakin menjadi leherku diciumi dan tangan Fifi berada dipunggungku. Tanganku beroperasi semakin jauh dengan meraba paha Fifi yang mulus dia semakin menggelinjang ketika tangan kananku mulai masuk dalam payudaranya. Tanpa menantikan reaksi lanjutan aku mendongkrak BH sampai-sampai tanganku dengan gampang menyentuh putting yang mulai mengeras.

Kudengar nafas Fifi mengejar dengan diselingi ucapan yang aku tak mengerti. Fifi mulai pasrah dan kedua tangaku mendongkrak kaos sehingga sekarang Fifi melulu memakai rok mini yang telah tidak lagi berbentuk sementara BH hitam telah tidak lagi memblokir payudaranya. Kudorong perlahan Fifi guna berbaring di Sofa, Aku terkagum menyaksikan putihnya tubuh yang hampir tanpa cacat. Kuperhatikan putting susunya memerah dan kaku, bulu-bulu halus berada disekitar pusar meningkatkan gairahku. Fifi melulu terpejam dan aku mulai menurunkan rok mini sesudah jariku sukses menyentil pengait dibawah pusar. Kini Fifi melulu tinggal menggunakan CD dan BH hitam kontras dengan warna kulitnya. Aku bergegas mempreteli pakaianku dan melulu tinggal CD. Cepat-cepat kutindih tubuh mulus tersebut dan Fifi mulai menggelinjang menikmati sesuatu mengganjal dibawah pusarnya. Aku turun menciumi kakinya sesenti demi sesenti.
“Enggghh hhss”, melulu suara tersebut yang kudengar saaat mulutku bertindak di lutut dan pahanya.

Penisku terasa sakit sebab kejang. Mulutku mulai menjalar di paha.., benar-benar kunikmati sejengkal demi sejengkal. Tanganku mengupayakan menelusuri wilayah disela pahany, Dan kudengar suara tersebut semakin menjadi ketika tanganku sukses menyusup dari pinggir CD hitam dan sukses menemukan lokasi berbulu dengan tidak banyak becek didalamnya. Tanganku terus mengelus bulu-bulu kaku dan tangan satunya berjuang mempermudah dengan menurunkan CD didaerah pada berpapasan dengan mulutku. Kusibak seluruh penghalang yang menghalangi tanganku guna menjamah kemaluan, dan sekarang semakin nampak wajah pribumi kemaluan Fifi estetis montok putih kemerahan dengan bulu jarang tapi tertata letaknya. Mataku terus memantau kemaluan Fifi yang menarik, kulihat klitorisnya membengkak terbit merah muda warnamya…, aku semakin terangsang hebat.

Mulutku masih disela pahanya sedangkan tanganku terus menjebol liang semakin dalam dan Fifi semakin menggelinjang terkadang mengejang ketika kupermainkan daging kecil disela gua itu. Kusibakkan dua paha dengan merentangkan kaki kanan pada sandaran sofa sementara kaki kiri kubiarkan menyentuh lantai. Kini kemaluan Fifi semakin tersingkap lebar. Mulutku telah tak sabar hendak merasakan lidahku telah berdecak kagum dan bercita-cita cepat menerobos liangnya beradu dengan daging kecil yang manja tersebut dengan bulu yang tidak banyak. Kumisku bergeser perlahan beradu dengan bulu halus kepunyaan Fifi dan dia hanya dapat terpejam dengan lenguhan panjang separuh menjerit. Kubirakan dia mengguman tak karuan. Lidahku mulai menjilat dan bibirku menciba menghisap daging kecil kepunyaan Fifi yang menjorok keluar. Kuadu lidahku dengan daging kecil dan bibirku tak henti mengecup, kurasakan kemaluan semakin basah.

Fifi berteriak semakin keras ketika tangaku pun mengambil inisiatif guna meremas payudaranya yang bergerak kiri kanan ketika Fifi bergoyang kenikmatan. Aku pun tidak tahan menyaksikan semua ini. Kutarik bibirku menjauh dari kemaluanya dan kulepas Cdku sampai-sampai nampaklah batang penisku yang telah tegak berdiri dengan ujung merah dengan tidak banyak lendir. Kusaksikan Fifi masih terpejam kudekatkan ujung penisku hingga akhirnya menyentuh kecil kemaluan Fifi. Jeritan Fifi semakin menjadi dengan mengusung pantatnya agar penisku menjenguk lubangnya. Kujauhkan penisku sebentar dan kulihat pantat Fifi semakin tinggi mencari. Kugesek gesekkan lagi penisku dengan keras, aku terkejut tiba-tiba tanfan Fifi menagkap batang penisku dan dibimbing menuju lubang yang sudah disiapkan. Denga lembut dan sopan penisku masuk perlahan. Saat kepala penis masuk Fifi menjerit keras dan menjepitkan kedua kainya dipinggangku. Kupaksakan perlahan batang penisku akhirnya sukses menjenguk lubang terdalam kepunyaan Fifi. Kaki Fifi kaku menahanku dia membuka mata dan tersenyum.

“Jangan digoyang dulu ya De…”, pintanya dan dia terpejam kembali.
Aku menurut keterangan dari saja. Kurasakan kemaluan Fifi berdenyut keras memijit penisku yang terbenam dalam tanpa gerak. Akhirnya Fifi mulai menggoyangkan pantatnya perlahan. Aku menikmati geli yang luar biasa. Kuputar pun pantatku seraya bergerak maju mundur dan ketika penisku terbenam kurasakan bibir kemaluan Fifi ikut terbenam dengan kulit penisku. Tak seberapa lama aku menikmati penisku mulai panas dan geli yang berada diujung aku semakin mengurangi dan manarik cepat-cepat. Fifi merasakan pun rupanya, dia mengimbangi dengan menjepitkan kedua kakinya dipinggangku sampai-sampai gerak penisku terhambat. Saat penis masuk karena pertolongan kaki Fifi semakin dalam kurasakan lokasi yang dituju.
Aku tidak powerful dan, “Fi aku inginkan keluar”, lenguhku.

Fifi melulu tersenyum dan semakin mempererat jepitan kakinya. Akhirnya, Kutekan seluruh penisku dalam-dalam dan kusaksikan Fifi terpejam dan berteriak keras. Kurasakan semprotan spektakuler didalam kemaluan Fifi. Dan aku terus menggoyangnya, tiba-tiba Fifi berteriak dan tangannya memelukku kuat-kuat. Bibirnya menggigit dadaku sedangkan pantatnya terus mengejang kaku, aku melulu terdiam menikmati nikmatnya seluruh ini.
Aku menindih Fifi dan penisku masih betah didalam liang sanggamanya. Fifi membelai punggungku perlahan seolah merasa fobia kehilangan kesenangan yang telah direguknya. Perlahan kujauhkan pantatku dari tubuh Fifi dan kurasakan dingin penisku saat terbit dari liang kenikmatan. Aku terlentang menikmati sisa-sisa kenikmatan. Fifi pulang bergerak dan berdiri. Dia tersenyum melangkah mengarah ke kamar mandi. Kudengar suara gemericik air mengguyur…,
Fifi pulang mendekatiku, aku duduk diatas karpet guna berdiri berkeinginan membersihkan penisku yang masih belepotan, aku terkejut ketika Fifi pulang mendorongku guna tidur.
“Eh fi aku inginkan ke kamar mandi dulu.., bersih- bersih nih…”
Tapi tak kudengar jawaban sebab Fifi membungkuk di sela pahaku dan kurasakan mulut Fifi kembali bertindak memanjakan penisku dengan lidahnya. Aku geli menggelinjang menikmati nikmatnya kuluman mulut Fifi ke penisku. Telur penisku dijilat dan dihisap perlahan. Serasa ujung syarafku menegang.

Kujepit kepalanya dengan dua pahaku, Aku mulia menggumam tak karuan namun Fifi semakin buas melumat penisku. Ujung penisku dihisap kuat-kuat lantas dilepas lagi dan tangnnya mengocok tiada henti. Akhirnya aku menyerah guna merasakan kesenangan mulut Fifi yang semakin menggila. Kulihat kepala Fifi naik turun mengelomoh penisku yang menegang. Saat mulutnya menghisap kusaksikan pipi Fifi kempot laksana orang tua. Penisku dikeluarkan dari mulutnya dan kusaksikan kepala penisku telah memerah siap guna menyemprotkan air kehidupan. Fifi pulang menggoyang mulutnya guna penisku tiada henti. Kepala penisku mendapat perlakukan istimewa. Dihisap dan dikulum. Lidahnya menjilat dan mengecap semua bagian penisku. Tangan Fifi menolong mulutnya yang mungil memegangi penisku yang mulai tak pasti arah. Aku kegerahan, kupegang kepalanya dan kuataur ritme supaya aku tidak cepat keluar.


Hanya suara mengherankan itu yang sanggup terbit dari mulutku. Aku mengupayakan duduk untuk menyaksikan seluruh gerakan Fifi yang semakin binal pada penisku. Kepala Fifi tetap dalam dekapan tangaku, kuciumi rambutnya yang halus dan kobelai punggungnya yang putih licin, dia mulai berkeringat mengagumu penisku. Mulut Fifi berguman merasakan ujung penisku yang semakin membonggol. Tanganku kuarahkan guna meremas payudaranya. Saat kegelianku datang, payudaranya jadi sasaran amuk tanganku. Kuremas powerful Fifi melulu mengguman dan melenguh. Gila, Sayang aku tidak sukses mengatur masa-masa yang lebih lama lagi guna tidak menerbitkan cairanku. Mulut Fifi sekain buas melihat tingkahku yang mulai tak karuan. Lenguhku semakin keras. diluar sangkaan Fifi semakin kuat mengerjakan kuluman dan hisapan peda penisku. Akhirnya aku tidak tahan merasakan kesenangan yang tiada tara ini. Kuangkat pantatku tinggi – tinggi, rupanya Fifi memahami maksudku, dimasukkannya dalam-dalam penisku dan kurasakan Fifi tambah powerful menghisap cairanku aku jadi merasa tersedot masuk dalam mulutnya.

Tak seberapa lama sesudah cairanku habis, Fifi masih mengulum dan mencuci sisa-sisa dengan mulutnya. Aku hanya dapat tengadah menikmati semuanya. Setelah tersebut Fifi mulai melepas mulutnya dari penisku. Kulihat semuanya telah bersih dan licin. Fifi tersenyum dan dia membelai dadaku yang masih telanjang. Aku baru dapat berdiri dan mengarah ke ke kamar mandi ketika Fifi beranjak dari duduknya guna membuatkan aku minuman. Kubersihkan diriku. Aku minum sejenak, dan Fifi melulu diam saja memandangiku.
“Kenapa Fi…?”, tanyaku.
Dia memandangku dan berkata, “Maaf ya De sebetulnya aku tadi melulu memancingmu saja kok, aku nggak tahu anda udah pernah main ama Diana atau belum, abisan aku lihat tatapan mata Diana sama anda kadang mesra sekali sih aku jadi curiga”
“Gila, kupikir”, namun aku melulu senyum saja mendengarnya.

Tak terasa masa-masa sudah mengindikasikan jam 12.45 aku mesti bergegas guna menyiapkan rapat. Kami berdua mengarah ke ke toko lokasi Fifi memarkir mobilnya. Selama diperjalanan kami semakin mesra dan berkali-kali kudengar lenguh manja Fifi seakan masih merasakan sisa-sisa orgasmenya. Tangankupun sekali-kali tidak lagi fobia menelungkup disela pahanya atu penggelayut dipayudaranya yang besar. Bahkan Fifi semakin tidak mempedulikan pahanya tersingkap lebar dengan rok terangkat guna mempermudah tanganku menjelajah dikemaluannya. Fifipun enggan kalah penisku jadi sasaran tangannya ketika tangaku tidak menduduki kemaluannya. Kurasakan penisku tegang kembali. Fifi melulu tersenyum dan meraba terus penisku dari luar celana. Akhirnya sampai pun ditempat Fifi memarkir mobil dan kami berpisah, Fifi menyerahkan kecup manja dan perkataan terima kasih.

Aku melulu tersenyum dan bergumam, “Besok aku inginkan lagi..”
Fifi mengangguk dan berbicara “Kapanpun Ade mau, Fifi bakal layani”
Hati setanku bersoak mendengar jawaban yang berisi makna kemanjaan suatu penis dan keganasan kemaluan memerah dengan bulu halus. Diana tidak mengetahui bila aku sering menikmati kemaluan Fifi yang putih dan lunak itu. Mereka masih tetap akrab dan berjalan bareng seperti biasanya

Tuesday, June 12, 2018

June 12, 2018

CERITA SEX NGENTOT CEWEK BINAL DI PANTAI - www.ceritasexnesia.blogspot.com

Dinding lokasi tinggal mulai agak kusam,tandanya lokasi tinggal harus segera terdapat perhatian.Ya plafon pun sudah ada tidak banyak ada tidak banyak kerusakan,ya lumyan lama lokasi tinggal ini berdiri selama 5 tahun yang lalu.Suasanya halaman yang dulunya asri oleh bunga warna-warni sekarang seakan tiada lagi,hanya terbelakang berbagi saja,bunga tulip,melati satu batang,bunga anggrek pemberian tante.

Semua tersebut prediksi ku mesti segera di percepat menilik rumah ku sebagai lokasi kost,Penghuninya biar nyaman yang “punya lokasi tinggal kudu”perhatian juga.Mengingat service tersebut dimana saja mesti baik.

Aku Punya lokasi kos-kosan,dengan menjadikan lokasi tinggal sebagai lokasi beristirihat sejenak untuk yang membutuhkan,Tapi dalam yang ku alami aku tidak pernah mengasumsikan ada kejadian mengesankan,ini ceritanya,Pertama kali aku mengenalnya ialah saat kembali dari Jakarta, dia ialah siswa sekolah keguruan yang terdapat di kotaku pada ketika itu,dia cantik,manis dan bertubuh mungil dengan kulit putih. Dasar nasibku lagi mujur tak lama berselang dia pindah kost kerumahku jadi gampang bagiku tuk lebih jauh mengenalnya.

Ternyata orangnya supel dan pandai bergaul, sampai-sampai aku tambah berani tuk mengaku perasaan hatiku, lagi-lagi aku beruntung dia menerima pernyataanku ,ukh bahagianya aku.

Suatu hari aku terdapat acara terbit kota ,iseng aku mengajaknya pergi,ternyata dia menyambut ajakanku. Sepanjang jalan mengarah ke luar kota kami ngobrol sambil berkelakar mesra,kadang tanganku iseng pura –pura tak disengaja menyentuh pahanya awalnya dia menepis tanganku namun lama kelamaan tidak mempedulikan tanganku yang iseng membelai pahanya yang putih dan gempal,aku memberanikan diri mengelus- elus pahanya hingga kepangkal pahanya . Dia tetap diam bahkan laksana menikmati elusan | belaian | belaian tanganku.

Aku tarik tanganku dari rok hitamya kemudian bertanya padanya boleh nggak aku menyentuh payudaranya yang membukit dibalik baju berwarna pink.mulanya dia menampik ,aku jajaki merayunya bahwa aku hendak mengelus walau melulu sebentar.

Akhirnya dia mengangguk pelan, langsung aja tanganku menyusup kebalik bajunya dan mengusap,mengelus bahkan ketika kuremas susunya yang mungil dan kenyal dia melulu mendesah dan menyandarkan kepalanya pada sandaran jok mobil yang kami kendarai.Kupermainkan putting susunya dengan dua jari dia semakin mendesah ,sambil tetap menyetir aku tarik reslting celanaku dan aku keluarkan penisku yang sudah menegang semenjak tadi bak laras tank baja ,aku pegang tangannya dan kutarik kearah penisku, ketika tangannya menyentuh penisku yang besar dan panjang dia tarik pulang tangannya barangkali kaget sebab baru kesatu kali.

Dengan tidak banyak basa basi pulang kutarik tangannya tuk memegang penisku akhinya dia menyerah lantas mulai membelai penisku perlahan.

“ Ang,punyamu besar sekali nyaris sebesar pergelangan tanganku “ katanya
“ Hmm,susumu pun kenyal sekali “ kataku seraya menikmati elusan | belaian | belaian tangannya pada penisku


Tak lama kami hingga di kota tujuan,langsung aku cari lokasi untuk menginap setelah tersebut pergi lagi tuk melakukan pembelian barang keperluan sekitar di kota itu.

Malam kami ngobrol diberanda depan kamar lokasi kami menginap seraya nonton tv ,kami duduk bersebelahan sekali kali tanganku bergerilnya ditubuhnya ternyata dia dibalik baju tidurnya dia melulu memakai cd sampai-sampai tanganku dapat bebas meremas remas susunya dan mempermainkan putingnya .

“ Akh,Ang tidak boleh terlalu keras “ katanya kala kuremas dengan rasa gemas.
“ Maaf,habis susumu kenyal sekali “ kataku
“ Iya ,tapi sakit “ katanya
“ Iya pelan deh,kita pindah kedalam yuk “ kataku berbisik padanya dan mengangguk perlahan.

Sesampainya didalam aku peluk dia dari belakang,kuciumi tengkuknya yang putih dengan sarat nafsu dia bergelinjang kegelian sementara kedua tanganku bergerilya pada tubuhnya.
“ Akh,Ang ………..shhhhhhhh “ kata mendesah

Tanganku mulai membuka kancing bajunya satu persatu dan kulepas bajunya melulu tinggal cd nya yang berwarna hitam.Kukulum bibirnya ,dia menjawab kulumanku dengan sarat gairah.Tangannya mengusap-usap penisku sesekali meremasnya sampai-sampai aku menikmati nikmat yang tak terhingga.

“Ukh,…teruskan yang “ kataku
“ Ikh besar sekali,panjang lagi “ katanya.
“ Ssssst ,”kataku seraya mengulum putting susunya yang kian menegang,tanganku kupergunakan guna menurunkan cdnya .Kuusap perlahan gundukan daging lunak yang ditumbuhi bulu – bulu hitam halus ,dia menggelinjang kegelian dan kulanjutkan dengan menggelitik belahan memeknya hangat terasa.

“Akh,….teruskan pelan pelan “katanya seraya meremas penisku.Kemudian aku menurunka kulumanku pada susunya ke pusarnya ,dia mengusung pinggangnya keasyikan kuteruskan ciumanku pada memeknya dan menegang ketika lidahku yang kasar menjilati memeknya yang merah merekah. Dia mengimbangi permainan lidahku dengan menggoyangkan pinggulnya bibirnya tak henti-henti mendesah .

“Sekarang giliranmu sayang “kataku padanya seraya menyodorkan penisku kemulutnya .Perlahan tapi tentu dia mulai menciumi batang kemaluanku yang semenjak tadi menegang ,saat dia mulai mengulum penisku terbang rasanya menyangga rasa nikmat .

Setelah tersebut kutelentangkan kekasihku yang putih,susunya yang mungil menggunung dengan memeknya yang merah merekah dibalik bulu- bulu hitam halus .Perlahan – lahan aku menaikinya ,kugosok-gosokkan penisku pada belahan memeknya dia meregang seraya mendesah tak karuan menikmati nikmatnya gosokkan penisku.Kemudian kutekan tidak banyak demi tidak banyak penisku pada memeknya ,pinggulnya naik seakan menyuruh supaya penisku segera dimasukkan pada memeknya.

“Ayo,akh aaaaaaaakh teruskan sayangku” katanya sambil unik pinggangku
“Baiklah ,sayang aku masukkan ya “ kataku sambil mengurangi penisku supaya masuk lebih dalam lagi pada lubang memeknya perlahan sebab takut dia kesakitan,sempit sekali.

“Aduh..,sakit Ang akh……..” katanya
“Sebentar pun hilang “ kataku,penisku terbit masuk memeknya yang terasa basah dan hangat.Rupanya ini empiris kesatu baginya sebab ada noda darah pada pangkal pahanya.

“Terus ….lebih cepat akh………ukh nikmat sekali kontolmu yang” katanya berani mungkin sebab pengaruh rasa nikmat dari terbit masuknya penisku yang panjangnya 18 cm,penisku juga mulai menikmati nikmat dari gesekan dengan dinding dalam memeknya.

“Akh…….terus goyang pinggulmu “ kataku padanya,dan dia menuruti kataku menggoyangkan pinggulnya Tak lama dia merintih sambil memelukku erat rupanya dia telah menjangkau orgasme,dia berbaring lemas dibawaku sementara penisku masih menancap pada memeknya yang terasa basah .Terlihat terdapat air mata pada ujung kelopak matanya ,melihat tersebut aku segera berbisik padanya bahwa aku bakal bertanggung jawab atas seluruh ini.

Barulah dia berubah riang pulang dan aku mulai kegiatan kembali menaik turunkan penisku dan dia merespon gerakanku dengan energik. Malam tersebut melakukannya sejumlah 6 kali hingga akhirnya tertidur pulas hingga pagi.