Showing posts with label download bokep. Show all posts
Showing posts with label download bokep. Show all posts

Saturday, April 14, 2018

April 14, 2018

Cerita Sex Ngentot Dengan Bu Hesti Guruku Yang Sange - www.ceritasexnesia.blogspot.com

Namaku Rendi (nama samaran), tinggi badanku 171 cm, berat ideal. Aku mempunyai wajah yang cukup ganteng dan k0ntol yang cukup untuk menciptakan cewek klepekklepek.

Aku memeiliki daya sex yang tinggi sekali, tidak jarang aku mengerjakan onani dgn dgn nonton film bokep dan menginginkan tubuh sintal dan sexy, kemudian memasukkan k0ntolku ke memek cewek.

Aku tidak jarang nonton film bokep dan diiringi mengeluselus k0ntol hingga aku tegang dan terbit air maniku. Ini seringkali aku kerjakan sampai 3 kali dlm satu kali nonton film bokep. Aku suka buah dada cewek yang montok dan kenyal.


Aku sangat suka bila bermain sex dgn posisi aku di bawah dan cewek yang memainkan memeknya di atas tubuhku sambil menyaksikan pantat besar dan mulus yang naik turun dan bergoyang.

Cerita hot ini bermula dari kemalangan kecil yang menimpaku. Seperti biasa, senja hari aku menyempati jalanjalan dgn motor kesayanganku, dgn menggunakan jeans dan jaket kesayanganku, dgn kecepatan yang tidak begitu cepat.

Aku lihat ke kanan dan ke kiri, mendarat tiba terdapat motor dari belakang dgn kecepatan tinggi menyerempetku. Sekilas aku kaget dan berjuang minggir, tp sial aku justeru jatuh sebab tepi jalan tersebut ada batu batu kecil yang mengakibatkan ban motorku tergelincir dan kesudahannya aku tertimpa motor dan yang menyerempetku tadi langsung tancap gas (kabur)!

Setelah tersebut aku berjuang bangun dgn bantuan orang orang di dekat situ. Aku terluka di unsur kaki (paha atas, lengan atas dan dada), sebetulnya luka ini tidak begitu serius bagiku, tp aku kagum sekali dgn bantuan orangorang di dekat situ yang sarat simpatik.

Setelah sejumlah detik kejadian itu, aku langsung diangkut ke dlm sebuah lokasi tinggal dekat kejadian. Ya, laksana biasa menghindari campur tangan polisi. Setelah aku dimasukkan di dlm sebuah lokasi tinggal dan motorku di depan lokasi tinggal itu, aku diajak duduk oleh seorang cewek yang ternyata empunya rumah itu.

Adik duduk aja di sini, biar ibu ambilin obat ya kata cewek tersebut dan segera masuk ke dlm kamarnya yang letaknya di depanku.

Perkiraanku cewek ini umurnya selama 36, meskipun umurnya ya lumayan tua sih. Tp cewek ini bodinya oke sekali deh, tingginya selama 165 cm susu yang montok berukuran selama 36B dan masih terangkat dgn memakai kaos yang longgar dan pantat yang besar sekali sebab pada waktu tersebut dia gunakan rok pendek hingga lutut dan kelihatan betis yang mulus dgn ditumbuhi rambut halus.

Aku sempat berkhayal guna memegang pantatnya yang besar sekali, kuremasremas seraya memasukkan jariku ke lubangkenikmatannya.

Setelah sejumlah menit dia menggali obat merah di kamarnya, dia memanggil anaknya,

Sri.. Sriambilin minum tuh bikin Masnya! ternyata dia punya anak wanita yang namanya Sri, umurnya selama 17 tahun.

Setelah sukses menemukan obat merah, kemudian menghampiriku,

Wah ini lukanya parah sekali Dik seraya membuka tutup obat merah.
Ah.. nggak kok Bu biasa aja kok, kataku sambil menyimak susunya yang montok tergelantung itu.
Nama Adik siapa? tanya ibu tersebut sambil meneteskan obat merah di lengan atasku.
Rendi Bu, aduh pedih sekali pelanpelan Bu!
Maaf ya Dik Rendi, oh ya nama ibu Hesti, katanya seraya meneteskan ulang obat tersebut di lengan atasku.

Dan tidak disengaja susu Hesti tersebut menyenggol sikuku.Oh maaf Bu tidak sengaja, tanyaku sambil menyaksikan susu Hesti yang menciptakan k0ntolku agak tegang.

Dia melulu tersenyum dan tertawa kecil.

Lho Dik Rendi yang kena yang mana lagi, sepertinya celana anda sobek tuh katanya seraya memegang celanaku yang sobek itu.
Ya Bu tersebut di unsur paha atas dan di dada ini, seraya membuka tidak banyak kaos yang kupakai.
Yang ini mesti diobati loh, entar bila tidak cepet diobati berbahaya, kaki kamu dapat di luruskan nggak? kata Bu Hesti.
Agak linu Bu sebab bagian paha sih kataku seraya mencari peluang melihat susu.

Pada waktu tersebut tepat dudukku tidak memungkinkan aku meluruskan kakiku.

Ya telah ke kamar Ibu dulu situ berbaring biar kakimu dapat diluruskan, kata Bu Hesti seraya membantuku berdiri dan berjalan.
Ya Bu tp? tanyaku ragu.

Nanti disangka macammacam, tp memang niatku untuk berjuang ngesex sama Bu Hesti yang montok itu.

Tp apa, oh anda malu ya nyantai aja anda kan teluka dan butuh pengobatan, telah masuk mari Ibu bantu! seraya melingkarkan tangan kanan di pundak Bu Hesti aku berjalan.

Dan tidak disengaja masa-masa berjalan, jarijariku menyentuh permukaan susu montok Bu Hesti tp aku tidak merubahnya, justeru kugesekgesekkan dgn pelanpelan supaya tidak ketahuan bila disengaja, terasa puting susu Bu Hesti yang kenyal mengakibatkan k0ntolku tegang. Dan sampailah di lokasi tidur Bu Hesti.

Sudah Dik Rendi, mana yang luka lagi? seraya duduk di sampingku dan membelakangiku sedangkan aku terlentang, otomatis tanganku menempel di paha mulus Bu Hesti.
Di dada sini Bu, kataku seraya membuka ke atas kaosku supaya kelihatan lukanya.
Ya telah dilepas dulu kaosnya, entar bila kena obat ini kan jadi merah, katanya basabasi.

Aku langsung buka kaosku, dan kini aku telanjang dada.

Nah gini kan dapat leluasa mengobati kamu, sambil menghampiri ke dadaku, dan otomatis aku menyaksikan dgn jelas susu Bu Hesti tergelantung dan ditutupi oleh BH yang tidak muat menampung besarnya susu Bu Hesti dan tanganku kian kurapatkan ke paha dan kini sudah di atas paha mulus Bu Hesti.

Dan pada masa-masa Bu Hesti meneteskan obat, aku terasa pedih dan dgn refleks tanganku terangkat sampai-sampai menyenggol susu Bu Hesti dan rok mini Bu Hesti terangkat ke atas, tampak paha yang mulus itu.

Maaf ya.. Bu, Rendi tidak sengaja kok, pintaku seraya menurunkan tanganku ke paha Bu Hesti yang mulus dan putih itu.
Ya.. tidak apaapa kok, seraya meneruskan meneteskan lagi di unsur dadaku yang luka.

Sekarang dia agak ke atas dan membungkukkan dirinya, otomatis susu yang montok tersebut dekat sekali dgn wajahku itu. Aku tidak tahu ini disengaja atau tidak, tp buatku disengaja atau tidak tetap saja menciptakan k0ntolku kian tegang.

Lamalama kok posisi Bu Hesti kian membungkuk dan hingga suatu ketika susunya tersentuh dgn mulutku. Wah, terasa kenyal dan empuk, aku tidak diam saja, aku berjuang pelanpelan menggeser tanganku yang di paha mulus Bu Hesti itu, pelan dan pelan sebab aku fobia Bu Hesti marah sebab ulahku ini.

Dgn nafsu yang kutahan, aku gerakgerakkan tanganku. Waduh.. paha orang ini mulus sekali, batinku sambil menikmati k0ntol yang menegang kepingin lepas dari sangkarnya (CDku), dan sampailah aku di pangkal paha Bu Hesti tersebut dan menyentuh CD Bu Hesti yang kelihatan menggunakan CD warna hijau kembang dan kepalaku bergerak ke kanan dan ke kiri guna menggesek susu Bu Hesti (pelanpelan), dan sesekali kujilat halus susu montok itu.

Waktu tersebut Bu Hesti diam saja dan terus mengobati dadaku yang luka tp nafas Bu Hesti tidak dapat disembunyikan, tidak jarang dia unik nafas panjang untuk menyangga nafsunya.

Sudah nihhh Semua luka anda di dada telah diobati, kini mana lagi yang terluka? seraya melihatku dan tidak mempedulikan tanganku di pahanya yang mulus itu.
Itu Bu.. di paha atas, jawabku sambil mengindikasikan tempat yang luka.
Wow Ya ini mesti dimulai Dik Rendi, bila tidak dimulai dimana ibu dapat mengobati lagipula kamu gunakan jeans yang ketat.. ya sudah ditanggalkan aja! jawab Bu Hesti sambil menyaksikan dgn dekat luka dari luar celanaku dan sesekali lihat k0ntolku yang telah tegang dari tadi.
Bu dapat bantuin copot celanaku, aku tidak dapat copot sendiri Bu, kan tanganku luka, alasanku supaya Bu Hesti dapat lihat k0ntolku dari dekat.


Tibatiba Sri datang dgn membawa air putih.

Bu ini airnya..
Ya.. telah sekarang anda keluar, e.. tidak boleh lupa tutup pintunya, ibu inginkan obati Mas Rendi dulu!

Wah ini kesempatanku guna melampiaskan sexku. Setelah tersebut Bu Hesti mulai membuka resleting celanaku dan membuka unsur atas dan aku mengusung tidak banyak pinggulku agar Bu Hesti gampang melepas celanaku.

Saat membuka celanaku, posisi Bu Hesti menunduk sehingga mulutnya dekat dgn k0ntolku yang tegang, dan aku sengaja mengusung pinggul yang lebih tinggi dan tersembullah k0ntolku dan mulut Bu Hesti

Sorry Bu.. tak sengaja, mulai saat tersebut k0ntolku mulai tegang sekali karena teknik Bu Hesti membuka celanaku sangat memicu k0ntolku.

Sambil tidak banyak menungging dan menggerakkan tidak banyak pantat yang besar itu, Bu Hesti melepas celana jeansku (apa ini usaha Bu Hesti untuk memicu nafsuku), dan kesudahannya aku kini tinggal gunakan CD.

Dan mulailah Bu Hesti mengobati paha atasku dgn posisi nungging membelakangiku dan tidak banyak siku tangannya menyentuh k0ntol yang telah tegang.

Sesekali Bu Hesti menyaksikan k0ntolku dan menggesekgesekkan sikunya di k0ntolku itu. Dgn menyaksikan gelagat Bu Hesti ini yang memberi kesempatan padaku, aku tidak diam aja.

Dgn menyaksikan pantat yang besar menghadap kepadaku, tanganku mulai tidak banyak meremasremas dan membelai betis lalu mengarah ke ke atas paha yang mulus dan kesudahannya aku hingga ke sangat atas (pantat mulus Bu Hesti) dan aku nekat mengusung rok mini Bu Hesti ke atas sampai-sampai sekarang tampak pantat Bu Hesti yang mulusitu dgn ditutupi CD yang menyelepit di belahan pantat.

Aku mulai mengeluselus, dan sesekali unik CD Bu Hesti dan ternyata telah basah dari tadi.Lalu aku memainkan jariku di permukaan memek yang tertutup CD itu, Bu Hesti barangkali sudah tahu gelagatku tersebut sehingga dia merenggangkan kedua pahanya, jadi kini terlihat jelas CD Bu Hesti yang basah.

Sekarang aku memberanikan diri untuk menyaksikan secara langsung memek Bu Hesti yang kelihatan telah tidak sabar untuk ditembus rudalku yang telah tegak berdiri.

Aku mulai menggeser CD Bu Hesti ke kiri dan kelihatan dgn jelas memek Bu Hesti yang telah memerah itu. Lalu aku perlahanlahan menggesekgesekkan jariku di permukaan memek Bu Hesti dan dgn reaksi tersebut nafas Bu Hesti mulai tak beraturan,

Eeehhh ahhh ohhh hemmm.. dan kini aku memasukkan jari tengahku ke lubang kesenangan Bu Hesti dgn tentu dan kukocok dan terus kukocok dgn pelanpelan dan lamalama semakin cepat dan
Ah.. oh yes te rus please ah ohe.. lebih dlm..Reen

Bu Hesti mulai melemparkan obat merah tersebut dan kini tidak mengobati lukaku lagi justeru sekarang dia telah mulai mengocok dan meremas dgn powerful k0ntolku.

Aku tidak cukup puas dgn posisi ini, aku mulai mengusung di antara kaki Bu Hesti ke sampingku dan kini posisi 69 yang kudapat, dan memek Bu Hesti tepat di depan mulutku.

Aku mulai menjilat klitorisnya, dan kusedot kecil dan kupermainkan pinggir memek Bu Hesti dgn lidahku yang estetis itu.

Oh.. ya enak sekali hisapanmu Reen Oh aughhh ahhh yes terus! dan aku mulai memasukkan lidahku ke dlm lubang yang basah tersebut dan terasa asin tp gurih.
Oh ah terus kontol anda tegang sekali Rendi
Ya.. Bu jilat jilat dong..!

Tanpa tidak sedikit kata Bu Hesti terus melumat berakhir k0ntolku.

Oh ya ya terus yang keras lagi!

Bu Hesti memang lihai dlm urusan oral, tidak satu bagian juga dari k0ntolku yang terlewatkan dari lidah birahi Bu Hesti. Telur k0ntolku terlahap pun dgn mulut binalnya.

Bu Hesti tidak puas hingga di situ, kini dia mengusung pantatku lebih tunggi dan kelihatan jelas lubang anusku dan kini mempermainkan lidahnya di lubang anusku.

Oh, terasa geli bercampur nikmat hingga ujung rambut, pada waktu tersebut juga Bu Hesti tidak kuat menyangga nikmat yang dia rasakan, dan aku tahu bila Bu Hesti inginkan orgasme yang kesatu kalinya, aku mempercepat gerakan lidahku diklitorisnya, dan mempercepat kocokkan jariku di memeknya dan akhirnya

Ren ah ye.. yea.. aku tidak tahan Reen.. a.. ku.. ke.. luaaar dan
Serr serrr.. terasa semprotan powerful dari memek Bu Hesti kena jariku.

Cairan putih kental yang terbit dari memek Bu Hesti kusedot berakhir sampai bersih cairan kesenangan Bu Hesti tersebut. Dia kini tergeletak lemas di sampingku.

Bu Hesti masih kuat? Apa lumayan saja Bu? tanyaku disamping memelintir puting susunya yangkuharapkan sex Bu Hesti pulang lagi dan terangsang.

Ah.. anda jantan sekali Reen! Aku tidak nyangka anda kuat sekali, anda belum keluar? tanya Bu Hesti seraya mengocok halus kemaluanku yang masih tegang itu.
Belum Bu! inginkan lagi atau

Belum aku berhenti ngomong Bu Hesti mulai memasukkan k0ntolku ke mulutnya dan dijilat, disedot dan dikocok, sementara aku di pinggir lokasi tidur dan Bu Hesti di atas lokasi tidur dgnposisi nungging, dan aku tetap meremasremas dan sesekali kupelintirpelintir puting Bu Hesti itu.

Aah terus Bu! lebih dlm Bu! yes hemmm Aah sessttt aahh
Renn masukin aja ya aku pingin ngerasain k0ntol anda ini,

Lalu aku memutarkan tubuh Bu Hesti dgn posisi nungging dan aku mulai menunjukkan k0ntolku ke lubang Bu Hesti tp aku tidak langsung memasukkan k0ntolku, kugesekgesek dulu ke permukaan memek Bu Hesti.

Ah.. ya masukkan Renn.. cepet aku tidak tahan nih oh ce pet!

Aku langsung memasukkan ke lubang Bu Hesti.

Blesss sleppp
Ah ye erang Bu Hesti menerima serangan batang kemaluanku.

Aku mulai memajukan dan memundurkan k0ntolku dgn pelan tp tentu dan kini aku tambah frekuensi kecepatan kocokanku.

Ah ya.. k0ntol kamu.. hebat Renn.. keras, te.. rus.. oh.. ssst ah

Aku semakin terangsang dgn erangan Bu Hesti yang menggeliatliat laksana cacing kebakar. Aku angkat kaki kanannya guna mempermudah jelajah k0ntolku guna sampai ke rahimnya dan kian mempercepat kocokanku.

Oh ya.. aughhh.. mmmpphhh teruss.. tidak boleh ber.. henti.. ah ke.. rass.. Rendi.. hebat

Dan akhirnya,

Renn lebih cepet! aku inginkan ke.. luar.. aku.. tidak oh.. ye.. tahan la.. gi.. ah oh shhh

Dan kesudahannya dia menyemprotkan cairan kenikmatannya, Serr.. serr terasa ujung k0ntolku dipancar dgn cairan hangat yang kental.

Sekarang Bu Hesti tergulai lemas di hadapanku. Aku menyimak tubuh Bu Hesti yang montok dgn susu yang besar, dgn telanjang bulat tanpa sehelai benang pun.

Aku tetap mengocok sendiri k0ntolku biar tetap tegang, dan aku mulai tidak kuat, barangkali ini waktunya aku untuk menyelesaikan permainan sexku.

Bu permisi, aku mau menyelesaikan tugasku ini

Dgn mengusung tubuh Bu Hesti ke pinggir lokasi tidur, dan membuka lebarlebar paha Bu Hesti sampai-sampai terpampang memek Bu Hesti yang masih basah dgn cairan kenikmatannya, aku mulai memasukkan k0ntol dan mengocoknya.

Ah.. kau badung ya.. Renn.. aughhh hemmm.. terus Renn

Aku dgn motivasi 45″ kukocok berakhir memek Bu Hesti dgn menggesekgesek klitorisnya dgn jari jempolku guna mempercepat dia guna orgasme ketiga kalinya, dan

Bu aku inginkan ke luar.. ah.. ye di.. mana.. ini dlm atau di luar oh ye! seraya mempercepat kocokan jari dan k0ntolku.
Ya.. aku pun Rendi uh.. uh.. hemm sstt.. kita.. barengan di dlm.. oh ye..

Bu Hesti tidak powerful lagi ngomong kecuali meremmelek tahan nafsu, dan kesudahannya aku terbit di dlm memek Bu Hesti, Crottt.. crottt hingga lima kali semprotan dan dibarengi dgn erangan dan getaran tubuh Bu Hesti,

Oh yak.. yes hemmm

Lalu kucabut k0ntolku dan kupukulpukulkan di permukaan memek Bu Hesti dgn reaksi Bu Hesti mengusung tubuhnya dampak memeknya kupukul dgn k0ntolku.

Bu Hesti hebat sekali deh, makasih ya Bu
Kamu pun hebat banget Rendi.. Ibu hingga kualahan menghadapi kontol anda yang tegap ini. Wah kontol anda ini mesti dimurnikan dulu ya

Dia langsung menunjukkan k0ntolku ke mulutnya dan dilahap langsung dan dikocokkocok habis.

Wow oh ye.. teruus.. yesss sseessttt ahh ya

Ini membuatku tegang lagi, dan Bu Hesti tak hentihentinya mengocok dan mengulum k0ntolku yang tegang sekali.

Bu udah.. augghhhh he udahh aku.. tak.. tahan..

Dan

Creet creeettt

Kukeluarkan spermaku guna kedua kalinya di wajah Bu Hesti, dan aku terbaring lemas di atas susu Bu Hesti.


Nah.. kini kan Bu Hesti tidak kalah banget toh.. ya.. duatiga lah!
Makasih ya.. Renn anda hebat dlm permainan sex, kapankapan anda lagi ya.. sudah anda tidur dulu deh!

Lalu aku tertidur hingga malam, dan sebelum aku kembali ke kostku, sempat Bu Hesti mohon untuk oral sekali lagi.

Wednesday, April 11, 2018

April 11, 2018

cerita sex ngentot dengan SUSTER CANTIK BERHIJAB - www.ceritasexnesia.blogspot.com

Namaku hendri, aku berkerja di suatu kantor BUMN. aku telah menikah sekitar 3 tahun dengan istriku. meski kami belum di karuniai anak, kami paling bahagia sebab istriku ialah orang yang pandai sekali mengasyikkan suami. laksana tidak terdapat habisnya sensasi, gaya, dan kiat yang istriku peragakan masing-masing kali kami bergumul di r anjang. aku 7 tahun lebih tua dengan istriku yang sekarang berusia 28 tahun.

Beberapa masa-masa lalu, lokasi tinggal kami semakin berwarna saat adik bungsu istriku yang kuliah kedokteran di di antara perguruan tinggi negeri tengah menjalankan Coass di di antara Rumah Sakit negeri yang kebetulan berada dekat dengan lokasi tinggal kami. Umurnya masih paling muda selama 22 tahun, dia tergolong mahasiswi yang cerdas sebab dapat menyelesaikan studi tepat pada waktunya.

Jika disaksikan dari wajahnya, dia lebih cantik dari istriku, diperbanyak wajahnya yang teduh dan keibuan. Walaupun tubuhnya aku taksir tidak sebagus tubuh istriku namun masih diatas ratarata perempuan pada umumnya. Perbedaan lainnya, jka istriku senang berpakaian seksi dan unik lawan jenisnya, lagipula ditunjang dengan tubuh yang paling aduhai. Adik dari istriku ini justeru sebaliknya, dia menutupi kecantikannya dengan pakaian yang paling longgar dan jilbab yang lebar. DItambah manset dan kaus kaki sampai-sampai aku hanya dapat melihat wajahnya yang putih bersih dan telapak tangannya. Bahkn masing-masing aku terdapat di lokasi tinggal dia tidak mencungkil jilbab dan kaoskakinya meski barang sebentar. Namanya Nurul Annisa gadis cantik itu

Kami lalui hari dengan wajar, aku dapat berangkat terlebih dahulu dengan mengirimkan istriku ke kantornya. Sedangkan Annisa terbiasa berangkat terakhir sebab letak Rumah Sakit yang tidak terlampau jauh dari lokasi tinggal kami. Walau dalam hati aku menyimpan ketertarikan pada Annisa. Aku semakin bergairah saat melihat tingkahnya yang sopan, murah senyum, dan lenggok pinggulnya saat berjalan meski aku yakin bukan maksud dia untuk mengerjakan itu. Inner beauty yang terpancar diperbanyak bakat keelokan den kemolekan tubuhnya tidak jarang kali ia jaga dengan baik. Katanya melulu untuk suaminya saja, bahkan dia tidak inginkan pacaran meski saya yakin pasti tidak sedikit lakilaki yang menginginkannya. Jilbabnya yang lebar tersebut tidak bisa menutupi lekukan dadanya yang membusung. Jika istriku berukuran 38 B aku taksir besar tetek adik istriku tersebut sekitar 36 B. Tingginya yang semampai nyaris mencapai 165 cm ditunjang tubuh yang tidak kurus pun tidak gemuk menciptakan mata lakilaki manapun tentu akan terkesima. Apalagi andai dirumah aku tidak jarang melihatnya melulu menggunakan daster saja meski wajah dan kakinya tidak bisa aku lihat, namun aku dapat menginginkan bagaimana tubuhnya.

Terkadang saat aku bergumul dengan istriku aku menginginkan sedang mengerjakan dengan Annisa, sikapnya yang tertutup pada lakilaki dan selalu memblokir tubuhnya semakin membuatku penasaran. Hanya saja aku masih menghargainya sebagai adik dari istriku, dan sikapnya yang mengawal diri. Gayanya dan sikapnya yang renyah menciptakan siapapun jadi tidak sungkan guna mengenalnya lebih dekat denganna meski ia tetap mengawal jarak.


Suatu hari, sepulang kantor aku membuka DVD Blue Film yang baru aku pinjam dari rekan kantorku, Blue Film yang aku tonton degan memakai komputer lumayan bagus dimana Film itu tidak terlampau vulgar dan seronok yang menciptakan orang jijik. Itu membangunkan gairahku, kudekati istriku yang sedang menyaksikan tivi di ruang tengah, aku mulai mencumbunya dan dia pun menjawab cumbuanku, tibatiba ku dengar pindu depan terbuka, tentu Annisa gumamku.

Tumben jam 9 baru datang Nis? Tanya istriku,

Iya mbak, tadi praktik bedah dulu. O ya mas, boleh kan aku gunakan ruang kerjanya, aku inginkan buat laporan lanjut Nisa.

Silahkan aja, gunakan sebabasnya dan tidak boleh canggung disini ujarku sambil menyangga birahi yang baru saja naik.

Terima kasih ya mas ucapnya.

Setelah Nisa masuk kamar kamipun segera melanjutkan pekerjaan kami dan pindah ke dalam kamar kami. Pergumulanpun semain seru sebab istriku mulai menerbitkan jurusjurus barunya. Tapi tidak butuh ku ceritakan sebab bukan ini inti kisah yang bakal aku ceritakan. Setelah kami puas kamipun tertidur.

Aku terbangun selama pukul 1 dini hari, ku lihat istrku masih terlelap keletihan tanpa seheli benangpun disebelahku. Aku terbit kamar untuk memungut air minum dan memeriksa situasi rumah. Kulihat sekilas Annisa masih di ruang kerjaku dan masih didepan komputer, sesudah kupastikan seluruh pintu terkunci dan aku memungut segelas air. AKu mulai simaklah Annisa yang tampaknya tidak mengetahuoi keberadaanku. Aku puji kecantikanya dalm hati. matanya yang lentik, bibirnya yang tipis dan menawan. Namuntibatiba aku menyaksikan sesuatu yang ganjil. Mata Annisa masih memandangi layar komputer ketika itu, namun tangannya mulai menyusup dibalik jilbabnya. Dari pergerakan tangan yang tertutup jilbabnya tersebut aku tahu apa yang dia lakukan. Dia meremasremas teteknya sendiri, ku lihat matanya separuh terpejam bibirnya terbuka. barangkali dia sedang menikmati sensasi yang baru dia rasakan.

mhh..uuhhhmmmaaahhh. ku dengar desahan samar dari mulutnya, aku segera bergegas ke kamar untuk memungut Handhone ku dan segera merekam kejadian langka ini.

Tangan kanan Annisa masih terus meraba teteknya, sekarang rabaannya makin keras dan bersemangat. Tidak melulu itu aku lihat sepintas tangannya melepas kancing daster unsur atasnya, dan aku yakin dia memasukkan tangannya ke dalam teteknya. Kejadian tersebut terus aku rekam.

Sesekali Annisa melengguh uuhhaahhhmhh..oohh matanya terus terpejam, bibir bawahnya dia gigit, terkadang kepalanya tergeleng ke kanan dan ke kiri.

Ternyata tidak berlalu disitu, tangan kirinya mulai mengarah ke ke selangkangannya, dia meraba memeknya sendiri dari luar dasternya. ku lihat jari tengahnya terus menggosok unsur tengah memeknya, aku zoom kamera HPku, dan menyaksikan secara close up apa yang sedang dia lakukan. Annisa mulai unik dasternya ke atas, meski masih menggunkan kaus kaki mulai tampak betis atasnya yang paling putih, sedikitdemi tidak banyak daster itu tertarik ke atas oleh tangan kiri Annisa. Pahanya yang putih mulus mulai tersingkap, Kontolku mulai tegang menyaksikan pemandangan itu. Sampai kesudahannya tangannya berhenti saat daster mulai hingga di unsur perutnya. Dan terpampanglan ceana dalam anisa yang berwarna putih. Tangan kiri Annisa terus bergerak masuk ke dalam celana dalamnya. Ku lihat tangannya terus bergerakgerak diantara selangkangannya. Desahannya semkin menjadi, rangsangan yang sungguh hebat menciptakan dia tidak menikmati keberadaanku.

Auuuuwwoohh.ahhh.eehhhmmmyyaaahhh racaunya.

Sunggh pemandangan yang belum pernah aku lihat seorang perempuan berjilbab yang tengah bermasturbasi tanpa mencungkil jilbabnya. Dulu ketika kuliah aku pernah mengintip anak ibu kosku yang mengerjakan itu, tapi tersebut kurang menantang sebab anak ibu kos ku tersebut sering mengumbar auratnya dan punya affair dengan di antara teman kosku. Tapi ini pemandangan yang bertolak belakang dan sungguh luar biasa.

Gerakan tangan kiri Anissa diselagkangannya semakin cepat, dan remasan tangan kanannya di tetek semakin kuat. Ingin rasanya aku membantunya, namun masih sibuk merekam dengan kamera handphoneku. Sesaat lantas aku lihat dia mulai menghentikan aktifitasnya, nafasnya naik turun teratur, matana masih terpejam, namun aku tidak tahu apakah dia telah menjangkau puncak kenikamatan atau belum sebab aku tidak mendengar jeritan yang seringkali menjadi ciri wanita ketika orgasme. Sebelum dia sadar aku segera bergegas mengarah ke kamarku, dan mulai mereview pulang dari HPku apa yang baru aku saksikan tadi. Tanpa sadar aku melakukannya seraya beronani, hingga orgasme sejumlah kali. Aku baru menyadari DVD Blue Film yang baru aku pinjam tadi, ternyata masih terbelakang dalam komputerku, aku yakin tadi tanpa atau dengan sengaja dia melihatnya. Aku yakin sebab dalam DVD tersebut ada adegan perempuan yang mengerjakan masturbasi, barangkali dia mengikutinya.

Keesokan paginya, seluruh sepertinya biasa dan nampak wajar, istriku masih sibuk berdandan, maklum dandannya dapat sampai 2 jam sendiri. Aku mengawali sarapan tanpa menantikan istriku, lantas ku lihat Annisa telah rapih dan terbit dari kamarnya. Dia paling cantik dengan dandanannya yang sederhana, melulu berbalut bedak tipis dan lip glose seperlunya. Tapi ini ialah pemandangan fantastis, perempuan yang apa adanya aku lihat menjadi jauh lebih cantik dikomparasikan yang bermake up. Jilbab warna pink dipadu kemeja putih dan rok panjang warna senada dengan jilbabnya menciptakan dia semakin cantik. Diapun tanpa menikmati apapun mengawali sarapan paginya.

Aku membuka obrolan pagi tersebut Gimana Nis? laporannya berlalu semalam?,

Sudah berlalu mas, terima kasih ya ruangan dan komputernya katanya tenang.

Ngerjain laporan atau ngerjain yang lainnya? sindirku.

Annisa langsung terdiam dan menghentikan kegiatannya yang sedang memungut nasi dari rice cooker. Wajah putihnya mulai bersemu merah, barangkali dia mulai menyadari aku menyaksikan apa yang dilakukannya.

Tenang saja, anda kan samasama dewasa, tahu sama tahu lah dan aku juga tidak bakal ceritakan ini ke kakakmu ujarku seraya ku perlihatkan hasil rekaman di HPku.

Wajah Annisa semakin tegang, keringat mulai mengairi wajahnya, tak sepatah katapun terbit dari mulutnya, aku tahu dia sedang bingung, malu, dan barangkali takut juga.

Mungkin beda kali bila mau tidak boleh sendiri, aku siap membantu anda sampai anda puas Bisikku.

Tanpa membalas dia langsung beranjak dari kursinya dan menyambar tasnya, tanpa menyampaikan sepatah katapun, yang aku tahu matanya yang berbicara, matana nampak mulai penuh diairi air mata yang berkeinginan meloncat keluar.

Malamnya, aku berlaku laksana biasa laksana tidak terjadi apapun. Sedangkan Annisa laksana agak sungkan dan kaku masing-masing bertemu denganku.

Pah, istirahat yuk, mamah dah ngantuk banget nich,

Ya telah tidur aja dulu, nanti papah menyusul.

Setelah kulihat istriku telah tertidur lelap, aku beranikan diri mendekati kamar Annisa, yang nampaknya masih menyala terang, kelihatannya dia masih belajar. Toktoktok aku mengetuk pintu kamarnya.

Siapa? sahutnya dari dalam, ketika dia buka pintu kamarnya, aku segera mendorong pintu tersebut sehingga Nisa agak tersungkur kebelakang. Aku kunci dari dalam pintu kamarnya,

Mass.mas inginkan apa? terbit dari kamarku,

Kamarmu? apa anda lupa anda tinggal dimana? sahutku agak tinggi, dia terdiam.

Kamu inginkan videomu tersebar kemanamana? bahkan wajahmu close up di video itu, seluruh orang akan menyaksikan apa yang anda lakukan,

Aapa inginkan mas? ucapnya terbata.

Aku melulu mau anda memuaskanku malam ini,

Jajangan mas, aku masih perawan, aku kerjakan apa saja asal bukan mengerjakan itu,

Buka! perintahku saat kontolku tepat sedang di hadapan wajahnya.

Dia mulai membuka celana pendek yang aku kenakan hingga ke lutut, Nisa agak terperangah meihat kontolku yang mulai tegang dan begitu menonjol seakan celana dalamku tidak mampu memuatnya.


Dengan bergetar tangannya menurunkan celana dalamku dan lantas menurunkannya sampai ke lutut. Tampak sekarang dihadapannya kontolku yang sudah tegak mengacung laksana sebuah tombak yang siap dihujamkan. Tampak ragu dia meraih kontolku dengan seraya menundukkan kepalanya. Akupun meraih tangannya yang halus, dan menyentuhkannya ke kontolku, rasanya paling nyaman, dimana kulit lembutnya menyentuh kontolku yang telah mengeras, kokoh, otototot yang terbit menambah kesan sangar. Wajahnya tertunduk dan mulai tersedu, namun aku tak menghiraukan, aku maju mundurkan tangannya, sampai sejumlah saat aku tak butuh menuntunnya sebab tangannya telah faham apa yang mesti dilakukannya. Nisa juga mulai berani mendongkrak wajahnya dan menatap kontolku. Tak berapa ketika aku menikmati sesuatu yang hendak melesak dari dalam tubuhku, hingga akhirnya

aahh..aku melengguh disertai keluarnya sperma dari kontolku.

aaaauuwww. Nisa tersentak kaget saat spermaku keluar.

Karena dia berada tepat didepan kontolku, muncratan spermaku tentang wajahnya, matanya, hidungnya, bibirnya dan beberapa lagi ke jilbabnya. Aku tersenyum puas kemudian ku tinggalkan Nisa yang masih terpaku.

Esoknya aku mengerjakan hal yang sama. kali ini, aku tidak butuh membentak dan memerintahkan, Nisa sudah memahami apa yang mesti dia lakukan. Walau agak ragu, dia mulai berani menurunkan celanaku sendiri, hingga celana dalamku, dan memulai usapan lembut pada kontolku. dia tidak malu dan canggung laksana kemarin walu masih nampak wajah fobia dan terpaksa mengerjakan itu. Aku memegang tangan kanannya, sambil tidak mempedulikan tangan kirinya tetap menggenggam kontolku yang nyaris tak tergenggam tangan mungilnya sebab dameternya yang nyaris mencapai 7 cm. AKu renggangkan telapak tangannya dan aku tuntun mengerjakan gerakan mengelus pada ujung kontolku, telapak tangannya mengelus dengan mengerjakan gerakan memutar di ujung kontolku laksana yang tidak jarang istriku lakukan. Hal ini memberiku sensasi yang lebih, lagipula yang melakukan ialah seorang perempuan yang polos mengenai seks, alim dan tidak jarang kali berjilbab, mengawal dirinya dan menutupi tubuhnya. sebuah sensasi yang paling luar biasa. Aku kembali menjangkau puncak dan memuntahkannya diwajahnya. Kegiatan tersebut sering kami kerjakan tanpa sepengetahuan istriku sampai sejumlah waktu lamanya.

Pagi ini aku baru hingga dari kantor sebab mendapat giliran piket, karena tersebut siang ini aku mendapat libur. Sampai di lokasi tinggal suasana wajar masing-masing pagi laksana yang sudah menjadi rutinitas. Istriku telah siap berangkat ke kantor, dan taksipun sudah menunggunya diluar. Pah aku berangkat dulu ya.. seraya menciumku, tubuhnya indah dibungkus blazer ketat dan rok yang paling pendek, ahhitu pemandangan biasa.

Mahsekalian kunci ya pintunya ujarku,

Nanti saja, Nisa belum berangkat, biar dia saja yang kunci pintu ujarnya seraya berlalu.

Hah..nisa masih di rumah..padahal seringkali dia sudahberangkat pagipagi sekali bisikku.

Kreeekkkblak kulihat intu kamar yang dimulai dan lantas di tutup, ku lihat nisa mengenakan jilbab warna putih hingga dibawah sikunya, gamis pink warna kesukaannya dan rok putih manset dan kaos kaki putih pun telah menghiasi lengan dan kakinya. Dia terperanjat melihatku telah di dalam, dia langsung menundukkan wajahnya dan bergegas mengarah ke pintu.

Nggak santap duli nis? sahutku memecah keheningan,

Ngga mas..di RS aja, ngga enak telah telat seraya terus menundukan wajahnya dan berlalu.

Eiitttmau kemana?santai dulu di sini,

Jangan masaku udah telat ke RS, nanti residentku marah sahutnya ketakutan,

Apa peduliku!, langsung hadir niat di pikiranku,

Kamu inginkan video tersebut tersebar? anda ingat? anda tingga di lokasi tinggal siapa? akan bermukim makan, istirahat tinggal tidur, wajahnya semakin memerah paling jelas sebab kulitnya yang putih tidak bisa menutupinya.

Kamu pun harus punya pengorbanan kemudian aku duduk di sofa depan TV yang biasa kami pakai untuk menonton, aku masih berkemeja lengkap.

siniduduk didepanku, dia langsung mengetahui perintahku, wajahnya masih tertunduk, dan sama sekali tidak melihatku.

Tanpa di ajak dia langsung membuka ikat pinggangku, kemudian celanaku dan menurunkannya hingga ke mata kaki. Ahhpemandangan yang paling tidak hendak aku lewatkan, berdua dengan wnaita cantik di rumah, dan yang sangat penting, kami tidak melakukannya sembunyisembunyi di kamar, namun di ruang tengah yang paling luas, aku semakin terobsesi. Tanpa di suruh, nisa langsung mulai menggerakgerakkan tangannya mengocok batang kontolku yang mulai tegak. berapa ketika kemudian,

berhentiaku sudah jenuh dengan teknik itu, ganti dengan teknik lain!!,

Cara gimana masaku ngga ngerti ambil terus tertunduk pasrah.

dengan mulut kamu.sekarang, aku lihat tubuhnya merespon dengan paling terkejut perintahku, urusan yang tidak pernah sama sekali dia bayangkan.

semakin lama anda melakukannyasemakin terlambat hingga RSbentakku.

Nisa juga mulai menuruti perintahku, didekatkan bibirnya yang mungil tersebut ke kontolku, saat bibirnya yang lembut, hangat dan basah oleh lipglose tersebut menempel ujung kontolku, aku menikmati sensasi yang luar biasa. Cara menciumnya pun paling aneh, sebab dia tidak pernah melakukannya sama sekali, namun aku biarkan sebab di situ seninya, menyaksikan wanita alim yang masih polos mengerjakan oral sex. Aku tertawa dalam hati, dan merasakan apa yang terdapat di hadapanku. Mungkin telah insting, ciumannya mulai mengitari semua kontolku, bahkan sesekali dia basahi dengan lidahnya. Dia melakukannya dengan mata yang tidak jarang kali terpejam, kuberanikan memegang punggungnya, aku rasakan detak jantungnya berdebar paling keras sampai ke punggung.

ahhnikmati sekali nisa sayang.terus sayangkulum semuanyaseperti anda mengulum permen lolipop ketika anda kecil dulu ujarku seraya mulai berani mengelus dan mengelus jilbabnya.

Dengan ragu nisa memasukkan kontolku ke rongga mulutnya, aku tidak bermukim diam aku segera mendorong kepalanya semakin masuk, sampai-sampai dia tahu apa yang mesti dia lakukan.Tangaku mulai berani menyusup ke balik jilbabnya, dan mengejar sebuah gundukan yang sangatlembut terbalut bra,

mhhcuma 34B namun lembut dan idah sekali desisku. Nisa terperangah, dan langsung tangannya memg tanganku dan menjauhkannya dari dadanya.

Diam!!! bentakku. Dia terdiam, dan matanya mulai meneteskan air mata.

Lalu tangan kananku memegang unsur belakang kepalanya dan memaju mundurkan kepalanya, sampai-sampai bibirnya yang lembut beradu dengan lapisan kulit kontolku, aku menikmati sensasi yng sangat spektakuler dan tidak pernah aku dapatkan. tangan kiriku pulang bergerilya di dadanya, kali ini tidak terdapat perlawanan, bahkan saat aku mulai meremas teteknya yang lembut. Aku menikmati putingnya semakin mengeras, tanda dia mulai terangsang dan menikmatinya. Sampai sejumlah saat akhirnya

aaahhaauuww Aku mengejang, dan mendadak muncullah lahar putih hangat dari ujung kemaluanku.

Nisa kaget bukan kepalang, dia berjuang mengeluarkan kontolku dari mulutnya, tapi tersebut siasia sebab tangan kananku menahannya. Akhirnya spermaku muntah di rongga mulutnya..dia hanya dapat tergugu dan diam dengan mulut yang masih mengemut kontolku. saat ku cabut, speraku meleleh dari bibirnya yang manis, dan diapun memuntahkannyaahhhindah sekali. dia langsung berlari ke wastafel guna memntuahkan apa yang baru ditelannya. dia meludah terus menerus, seraya terus senggukan menyangga tangis. Lalu dia juga masuk ke kamar. aku masih merasakan ejakulasi terindah yang pernah aku rasakan, seraya tetap duduk di sofa tengah.

Tak berapa lama, nisa terbit dari kamarnya, dengan jilbab dan gamis yang baru, mungkin sebab kusut dan terkena percikan spermaku. Walaupun tetap dengan wajah menunduk, tai dia mulai berjuang bersikap biasa, dan berani mencairan suasana.

Masaku berankat dulu,

Iyahatihati yarahasiamu aman denganku.

Malam harinya aku bergumul hebat dengan istriku sampai aku terlelap. Sebenarnya aku hendak sekali segera mempunyai buah hati, tapi tersebut belum terjadi, ya kini sih aku puaspuasin dulu dengan istri. Saking terlelapnya aku tidak tahu kapan Nisa datang. Jam 2 pagi-pagi sekali aku terbangun lagi, dan seperti seringkali aku memungut minum di kulkas.

Ku lihat kamar nisa masih terang, mhhrajin sekali belajarnya, kemudian ku ketuk pintu kamarnya, libidoku juga mulai naik lagi.

Nisbuka pintunya ujarku.

Iiya mas, agak lama dia membuka pintunya karena seringkali dia mengenakan jilbabnya dulu sebelum menemuiku.

belum istirahat ya?,

Belum mas, masih terdapat tugasmhhboleh aku pinjam lagi komputernya mas?,

Tentu saja bolehtapi anda tahu kriterianya bukan?, dia terdiam mungkin bingung, dia tahu arah pertanyaanku, namun dia tidak hendak melakukannya.

Mungkin tidak ada opsi lagi, mendadak dia segera menjalankan tugasnya, herannya kali ini dia sangat ganas mengulum kontolku, dia laksana sudah lihai dengan tugasnya, ahmungkin dia mencontoh dari DVD BF yang dulu dia tonton di komputerku, mulutnya terus mengairi kontolku, terus mengerjakan gerakan mengurut dan merangsang supaya kontolku segera menerbitkan lahar putihnya. Pemandangan yang luar biasa, dengan daster yang lebar dan mengenakan jilbab kaos putih ang paling lebar. Dan dia pun melulu diam saat dua tanganky menyelinap dibalik jilbabnya dan mulai meremas teteknya. Aku simaklah mukanya mulai memerah, kadang nafasnya terbendung dan mulai memburu. DIa tarangsangaku yakin sekali, dia pun manusia yang punya hasrat. Sesaat kemdian kontolku mulai bergetar dan segera melesakkan lahar putihnya, Nisa kaget dan spontan menerbitkan kontolku dari mulutnya, aku tidak bisa menahannya sebab tanganku sedang sibuk meremas teteknya. Seketika spermaku menyembur di wajahnya, tentang matanya, bibirnya, dan pipinya yang merona merah.


Ahhh. aku kaget mendengar kata tersebut keluar dari bibirnya.

bersihkan! serta merta bibir dan lidahnya mencuci sperma yang masih menempel di kontolku.

Akhirnya, pekerjaan ini tidak jarang saya lakukan, walaupun tetap aku paksa, tetapi dia telah tidak canggung guna melakukannya. Bahkan, dia semakin lihai supaya membuatku segera ejakulasi. Mungkin tersebut dia dapatkan dari latihan di kuliahnya, dia tahu titik rangsang yang sangat sensitif

Thursday, April 5, 2018

April 05, 2018

Cerita Sex Ngentot Dengan Bispak Kuliah Sange - www.ceritasexnesia.blogspot.com


Aku mendapat sebuah empiris yang menarik dimana aku berkenalan lewat dunia maya, yah disini aku tidak jarang chat dan tidak sedikit menemukan rekan wanita , kadang yang aku temui terdapat ibu ibu yang kisah akan masalah pribadinya hingga ke masalah sex tak jarang pun aku pernah di suruh untuk mengerjakan hubungan dengan di antara wanita STW namun dalam kisah ini aku akan mengisahkan kisahku perkenalan dengan mahasiswi.

Aku masuk dalam grup dimana aku melihat potret profilnya paling cantik aku chat dia, sebut saja namanya Rita dia masih muda usianya 20 tahun dengar dengar dia pun anak tajir yang sedang kuliah di luar kota, lha dari sini cerita ini terjadi.

Singkat cerita, sebuah hari aku terdapat tugas dinas ke kota M dan iseng-iseng aku hubungi dia melewati nomor HP yang telah dia berikan sebelumnya. Dan dengan senang hati dia inginkan ketemuan, asal dengan kriteria dia bawa teman. Walhasil, aku ketemu dia di di antara cafe di wilayah kampus yang sedang di pinggir kota.

“Hey.. Kamu Rita” sapaku.

“Hey, Dodi ya.. ” sambil membalas Rita mengulurkan tangannya.

“Kenalin ini temanku Dony,” sambil memperkenalkan temanku.

“Oh ya, kenalin pun ini temanku Rida,” kata Rita memperkenalkan temannya.

Sepintas terlihat, Rita ialah sosok seorang gadis model. Karena format tubuhnya paling semampai dengan ciri 167/45. Sehingga tonjolan di dada maupun di pantatnya tidak begitu nampak sebagaimana gadis-gadis yang aku kenal. Lamunanku buyar ketika Rita menawarkan menu yang inginkan dipesan.


“Iz, anda mau santap apa?” tanya Rita.

“Mmm, anu.. Terserah deh” jawabku gugup.

“Kenapa say.. Kok nervous gitu?” tanyanya manja.

Wah dadaku berdetak keras ketika dia panggil aku dengan kata “say.. ” namun aku cepat menguasai suasana dan bersikap laksana nggak terdapat rasa GR dengan panggilan yang aku kira paling romantis banget.

“Tidak kok, tidak apa-apa, aku ngikut aja,” jawabku datar.

Dari kesatu anda ketemu di chatting, aku tersingkap saja dengan kedudukan aku yang telah married. Dan ternyata diluar dugaanku, Rita dapat menerima urusan tersebut karena memang dia menyenangi cowok yang lebih dewasa.

2 jam lamanya kami berempat, ngobrol apa aja yang dapat dibicarakan. Baik mengenai kuliahnya, masalahnya Sampai kesudahannya waktu mengindikasikan pukul 21 tidak cukup 1/4. Akhirnya aku menawarkan diri guna mengantar balik ke kost-kostan.

“Rita, telah malem nih, mari aku anter balik” ajakku.

“Oke dah Mas Dodi,” jawab Rita singkat seraya bangkit dari duduknya.

Setelah aku bayar di kasir, aku bergegas mengarah ke mobil starletku yang butut kedinginan diluar cafe.

“Dan, minggu depan aku inginkan ke Surabaya,” kata Rita.

“Oya, dalam rangka apa?” tanyaku.

“Mau ketemu kamu, anda ada masa-masa kan?” jawabnya tersenyum.

Deg! jantungku terasa berhenti saat Rita bilang laksana itu, aku langsung berjuang menguasai situasi.

“Ooo.. Pasti bisalah, asal anda kabarin sehari sebelum datang,” pintaku.

“Oke deh, ntar aku hubungi anda Mas” kata Rita.

“Terus, anda mau dateng sama Rida atau sendirian?” tanyaku.

“Sendirilah Mas, masa iya sama temanku.. Kan nggak romantis?” jelas Rita.

Tanpa terasa sampailah di depan lokasi kost Rita.

“Selamat malam,” kataku.

“Terima kasih ya Mas, hingga ketemu minggu depan,” Rita mengingatkan.

“Ok” jawabku singkat, dan setelah tersebut aku langsung tancap gas balik mengarah ke ke Surabaya dengan perasaan yang masih bertanya-tanya dengan perkataan Rita yang tidak banyak romantis. Tetapi sebandel apapun aku, aku tetap memegang prinsip aku mengenai virginitas seorang cewek. Buat aku andai seorang gadis tersebut masih virgin, aku tidak bakal pernah inginkan Making Love sebab sudah menjadi prinsip aku guna tidak merusak masa mendatang seseorang.

6 hari telah berselang sesudah pertemuan kesatu dengan Rita dan cocok janji dia, Kamis siang Rita menelphone HP-ku. Ringtone dengan lagu dilema cellulerku berbunyi dan ketika aku liat layarnya ternyata 081252xx (nomor Rita).

“Mas Dodi kelak aku berangkat sepulang kuliah, dapat jemput nggak?” tanya Rita.

“Oke bisa, jam berapa?” balas aku bertanya.

“Mmungkin dari Surabaya jam 18.00″ jawab Rita.

“Lho emang anda mau langsung balik?” selidik aku.

“Tidaklah Mas, aku kan hendak ditemanin Mas Dodi semalaman” jelasnya.

Alamak si Rita ini, buat aku beranggapan yang nggak-nggak.

“Oo gitu, oke sapa takut” tantang ku.

“Oke deh Mas, hingga besok” seiring kata tersebut HPnya langsung dimatikan.

Setelah telphone off, aku langsung hubungi di antara hotel di Surabaya yang menjadi lokasi favorite aku dan kebeetulan aku di antara members di hotel tersebut. Sehingga setiap ketika aku dapat booking room dengan posisi open.

Hari jum’at jam 18.00 tepat aku telah nongkrong di jok mobilku. Diparkiran terminal Bungur Asih dan selang 5 menit cellulerku berbunyi, “Mas anda dimana?” suara Rita.

“Aku telah di parkiran terminal nih,” jelasku.

“Oke deh aku ke situ” jawab Rita.

Dengan perasaan deg-degan aku menantikan Rita nongol dari pintu terbit terminal, dan dari jauh aku lihat tubuh semampai yang agak kurusan berlenggak-lenggok laksana di catwalk. Setan bertanduk, mengembus pikiranku sepanjang Rita mengarah ke mobilku.

“Hey Mas Dodi, gimana khabarnya?” tanya Rita.

“Baik Rita” jawabku singkat.

“Sudah lama ya Mas Dodi tunggunya,” ia membuka percakapan.

“Belum kok Rita” jawabku singkat.

Tanpa panjang lebar, aku langsung mengarah ke hotel yang sehari sebelumnya aku telah booking. Dan parfum dengan wewangian melati paling megganggu birahi kelaki-lakianku. Setan bertanduk semakin aktif mengetuk benak kotorku guna langsung bercinta dengannya.

Sesampai di hotel aku langsung mohon kunci dan mengarah ke kamar lantai 2 nomor 222.

“Lho Mas mengapa kok booking yang 2 bed?” tanya Rita.

“Lho memangnya kenapa?” aku berlagak bengong.

“Rita pengennya yang satu bed, supaya dapat berduaan,” jawab Rita polos.

Walaupun setan telah pada meringis diatas kepalaku dan bilang, yes! namun aku berjuang cool di depan Rita dan sedikit berbicara bijak laksana orang tua.

“Rita, anda tidak untuk macam-macamkan di kamar ini?” balasku bertanya.

“Ya telah deh Mas, aku inginkan mandi dulu ya” jawab Rita kesal.

15 menit lamanya Rita mandi, kesudahannya pintu kamar mandi tersingkap dan begitu kagetnya aku, saat Rita melulu mengenakan daster yang tipis tanpa memakai BH dan CD, sampai-sampai nampak jelas sekali puting yang kecil menonjol di balik daster tipisnya. Tanpa menyaksikan gelagat Rita yang semakin menciptakan detak jantungku semakin cepat, aku langsung ambil handuk dan mandi.

Malam semakin larut dan nyaris 3 jam aku di dalam kamar berdua dengan Rita, detak jantungku semakin kencang tatkala Rita sesekali sengaja menyentuhkan tangannya di pundakku. Adik kecilku berontak dengan keras hendak keluar dari celanaku.

“Mas, malam ini anda manis banget sih,” kata Rita memuji.

“Ah kamu dapat aja” jawabku agak gugup.

Karena pertanyaan itu dikatakan hanya dengan jarak 20 centi dari mukaku sampai-sampai bau harum di wajahnya begitu menggelitik syaraf kelaki-lakianku.

“Mmm bagaimana.. ” belum berlalu aku tanyakan sesuatu tiba-tiba tubuh kecil Rita telah berada dipangkuanku. Sehingga mempermudah dia untuk menghirup bibirku. Sedangkan posisiku sendiri paling tidak menguntungkan untuk menjawab ciuman Rita, sebab posisi tanganku menopang tubuhku.

“Mmm.. Mas.. Aku suka kamu,” kata Rita seraya melanjutkan ciuman mautnya.

Aku tidak dapat menjawab sepatah kata apapun sebab memang serang bibir tipis Rita menggelontor bibirku bertubi-tubi. Perlahan namun pasti, aku mulai merubah posisiku guna terlentang di ranjang sampai-sampai tubuh mungil Rita dengan gampang naik diatas tubuhku.

Aku rasakan perutku mulai basah dengan cairan yang mulai menetes dari memek Rita. Karena dari tadi dia telah tidak menggunakan celana dalam sehingga ketika duduk diperutku, aku menikmati betapa halus bulu-bulu di selangkangan gadis ini. Tanganku mulai mengelus punggung dan tengkuk Rita, sehingga urusan tersebut membuat birahi Rita mulai terkoyak.

Dari mulutku Rita mulai merambat kebawah, menjilati puntingku sampai membuat darah aku berdesir dengan kencang.

“Rita.. Geli sayang.. ” aku merintih.

Rita kelihatannya semakin bernafsu mendengar rintihan aku, dan semakin berani saja gadis ini memainkan lidahnya disekitar perutku. Tubuhnya semakin kebawah dan sampailah wajah nya di atas selangkanganku, dengan satu gerakan saja, celana adidas yang aku kenakan langsung tertanggal.

“Mas.. Aku suka kontol kamu.. Gila besar sekali” puji Rita dan setelah tersebut langsung saja mulutnya yang tipis mulai tiba di batang kemaluanku.

“Oohh.. ” aku mengerang dan mnggelinjang ketika mulut Rita mulai melahap kontolku yang telah mulai mengencang. Sesekali tangan yang lentik mengocok batang kemaluanku.

“Aaow.. Sakit sayang” jeritku ketika giginya tentang kepala kontolku.

Aku melulu menikmati jilatan, hisapan dan kuluman bibir Rita yang tipis sembari aku menengok kebawah menyaksikan Rita yang lagi asyik mengoral kontolku. Duh alamak, ini gadis kok jago banget oral sex nya. Awas ya aku balas nanti kalo gadis tersebut sudah puas menghisap kontolku. Disaat aku menginginkan apa saja yang akan aku kerjakan dengan gadis kecil ini, tiba-tiba Rita bangkit dari selangkanganku dan berdiri.

“Mas. Rita telah nggak tahan.. Aku masukin ya?” tanya Rita seraya melepas kontolku dari mulutnya.

“Rita, Mas tidak mau, andai kamu masih virgin,” aku berjuang jelaskan masalah prinsipku mengenai keperawanan seseorang.

“Mas, Rita hendak banget.. Rita telah pernah kerjakan kok sama pacarku” jelas Rita tidak inginkan kalah.

“Kamu serius..?’” tanyaku bingung.

“Percaya sama Rita Mas, aku telah tidak virgin kok,” sambil berbicara seperti itu, Rita langsung berdiri diatas tubuhku. Tangannya yang lentik memegang kontolku yang berdiri kencang untuk ditunjukkan ke lubang memeknya

Bless.., suara kontolku mengoyak memek Rita.

“Ughh, Mas..” kepala kontolku langsung membuka lubang sempit di selangkangan Rita.

“Gila, enak sekali punya Mas.. aakkh” Rita menggerinjang sembari mulai berjuang memasukkan semua batang kemaluanku.

Aku menikmati lubang surgawi kepunyaan Rita paling sempit sekali, sampai-sampai aku menikmati sesuatu yang mengapit batang kemaluanku.

“Mas.. mentok nih, tak waras banget.. sebenarnya belum masuk semua..” rintih Rita.

“Gila Mas punya anda panjang.. Eenaak Mas” rintih Rita.

Beberapa kali Rita menggerakkan tubuhnya naik turun, tiba-tiba Rita mulai mempercepat pergerakkannya diatas tubuhku yang naik turun.

“Mass.. Ritaa.. Mau.. Daapett.. Maass..” rintih Rita.

Karena memang kontolku tidak dapat masuk seluruhnya (hanya menyisakan 2 cm saja), seraya bergerak naik turun tangan Rita berjuang menahan tubuhnya dia tas dadaku.

“Mas.. Aaampunn.. Akuu nggak tahan lagi..” rintih Rita.

“Mas.. Dodi.. Rita kee.. luuaarr..” bersamaan dengan rintihan panjang Rita sesuatu aku rasakan mengguyur batang kemaluanku.

Sssurr.., cairan yang terasa tidak sedikit membasahi selangkan aku.

Tubuh Rita langsung terkulai lemas dengan permainan tadi sampai-sampai dia terlentang sambil memblokir mata, menikmati sisa-sisa kesenangan yang telah diraihnya. Tanpa memberi nafas sedikitpun, aku mulai menunduk di atas dada gadis yang masih belia ini.

Dengan sentuhan yang sarat perasaan, lidahku mulai memainkan puntingnya yang masih mengencang besar. Aku berjuang membangkitkan gairah Rita yang telah mulai terkulai lemas.

“Mas.. Kamu hebat.. Ughh,” pujian Rita tidak hingga selesai sebab gigiku yang badung mulai menggigit punting Rita dengan mesra.

Aku tidak mempedulikan kedua tangannya menggapai kepalaku yang sedang asyik merasakan puntingnya yang kencang. Maklum, Rita termasuk cewek yang tidak memiliki payudara sampai-sampai puntingnya lebih dominan.

Semakin lama, mulutku yang binal mulai menjawab perlakukan Rita ketika mencumbui aku sebelumnya. Sesekali tubuhnya yang kurus menggelinjang hebat ketika aku mainkan pusar perutnya dengan lidahku, urusan ini menciptakan kedua pahanya tersingkap lebar.

Kesempatan tersebut tidak aku sia-siakan, wajahku langsung menciduk bongkahan daging dengan rambut yang begitu halus. Dengan satu kali gerakan, kedua tanganku sudah dapat mengunci kedua pahanya diatas pundakku.

“Mmas.. Gelii.. Ampun.. Ooohh,” Rita hanya dapat merintih ketika klitorisnya aku mainkan dengan lidahku. Sesekali aku menghirup bau wangi bekas cairan Rita yang sudah terbit saat permainan kesatu.


Dan urusan tersebut menambah birahiku guna melumat berakhir seluruh cairan yang mulai meleleh pulang dari lubang kewanitaanya. Sesekali pinggul Rita yang mungil ikut terangkat keatas, mengekor hisapan mulutku di selangkangannya. Beberapa ketika kemudian..

“Mas.. Ammpun.. Aku mau terbit laagi.. Mmass” kedua tangan Rita menenggelamkan wajahku dalam-dalam diantara kedua pahanya. Bersamaan dengan tersebut pula cairan putih meleleh dengan deras dari ujung lubang kewanitaanya. Dengan tidak banyak liar, aku minum seluruh cairan yang terbit dan aku jilatin hingga bersih pulang tanpa terdapat cairan sedikitpun.

“Capek sayang.. ” tanyaku.

“Kamu benar-benar tak waras Mas.. Hebat banget kamu,” puji Rita.

Belum berlalu dia memeujiku, aku langsung mengusung tubuhnya yang langsing dan tidak banyak kurus. Sekali angkat tubuhnya langsung berhadapan dengan tubuhku, dengan tangkas kontolku aku tancapkan ke lubang memek Rita,

“Mmas.. Aduh.. Kamuu benar-benar nakal..,” kata Rita manja.

Kedua tangan Rita menggelayut dileherku sementara kedua kakinya mengunci pinggulku, sampai-sampai hal ini mempermudah kontolku menerobos masuk di lubang memeknya.

“Slep.. Slep.. Slep.. ” tersiar kontolku bergerak terbit masuk lubang Rita. Kedua tanganku menyangga bongkahan pantat Rita yang tidak begitu besar, untuk mempermudah pergerakan terbit masuk kontolku. Karena tubuh Rita yang ringan mempermudah aku untuk bersangkutan sambil menggendong Rita.

Posisi ini aku pertahankan sampai, Rita orgasme yang ketiga kalinya.

“Mass.. Aku.. Keluar lagi.. ” sambil berbicara demikian Rita berjuang mendekap tubuhku erat-erat sementara tubuhnya tidak dapat mendekat tubuhku sebab memang terganjal kontolku yang panjang.

Disaat tubuh Rita turun dari gendonganku, aku tidak banyak mendorong tubuhnya guna menghadap ke dinding. Sambil aku bisikan kata yang mesra di telinganya

“Akan kuberikan semua kesenangan malam ini” rayuku.

“Mass..” desah Rita.

Kaki Rita aku buka lebar, sehingga mempermudah aku guna penetrasi melewati belakang.

Bless.., batang kemaluanku pulang menghunjam lubang Rita yang masih terengah-engah. Kedua tanganku memegang pinggul Rita dari balakang, sehingga mempermudah aku guna bergerak maju mundur. Kedua tangan Rita menyangga tubuhnya di dinding kamar.

“Mas.. Eennakk sekali.. ” rintih Rita.

“Kamu memang.. Jagonya Mas.. Uuuhh,” berkali-kali Rita merintah tetapi urusan tersebut tidak menghentikan permainan aku yang semakin tak waras saja.

Setelah puas dengan posisi laksana itu, dengan memeringkan tubuh Rita yang masih berdiri, aku angkat kakinya satu sampai-sampai aku dapat memasukkan kontolku dengan leluasa.

Crek.. Crek.. Crekk.., suara kontolku yang telah mulai diairi oleh cairan Rita yang begitu tidak sedikit meleleh, hingga menetes di pahaku.

“Mas.. Kamu.. Pandai sekali membuatku melayang.. Aaahh.. Uuuhh”

“Sayaang.. Aku.. Nggaa.. Tahann..” guna yang kesekian kalinya lubang kewanitaan Rita mengucurkan cairan putih pekat dibatang kemaluanku.

Setelah aku puas, kesudahannya aku membopong tubuh Rita dan menempatkan di pinggir ranjang. Kali ini aku melakuakn doggie style, aku semakin bergairah guna bermain dengan sejumlah variasi dalam bersetubuh.

“Hekk..” muka Rita dimasukan dalam-dalam diatas bantal saat kontolku menghujam kesekian kalinya.

“Oohh.. Rita.. Punya anda asyik banget..” puji aku.

Sambil menggerakkan maju mundur tubuhku dibelakang tubuh Rita, aku menyaksikan jelas kucuran keringat dari tubuh kami berdua. Sampai kesudahannya Rita menjerit panjang dibarengi kedua tanganya meremas sprey hotel dengan kencang.

“Mass.. Aaammppunn..” gigi Rita menggigit bantal dengan kencang.

“Aku pun mau terbit sayang.. Rita..?” aku mendesah kenikmatan

“Ooo Rita.. Mau dikeluarin dimana.. aakhh,” aku bergerak semakin cepat memasukkan kontolku.

“Di dalam aja sayang.. ” pinta Rita.

“Jangan aku nggak mau.. Cepet sayang aku telah mau terbit nih..” desahku.

“Ritaa.. Aaakhh” aku segera melepas kontolku dari lubang memek Rita dan dengan seketika mengembalikan badannya sampai mulutnya pas didepan kontolku.

Bagaikan di film-film BF yang pernah aku lihat, Rita langssung melumat berakhir kontolku.

Crutt.. Crut.. Crut.., entah berapa kali semburan spermaku dalam mulut Rita, aku melulu merasakan kesenangan yang luar biasa.

Semburan demi semburan, Rita laksana tidak mempedulikan lagi. Gadis tersebut tetap mengocok, mengulum dan menghisap dalam-dalam kontolku. Terlihat jelas spermamu menetes kelaur dicelah bibirnya yang mungil dan belum hingga jatuh, lidahnya berjuang menjilat kembali.

“Mmm.. Aku suka sekali sperma anda Mas..” kata Rita seraya menelan semua spermaku yang telah keluar.

Sambil menjilati sisa-sisa sperma yang masih menempel di batang kemaluanku,

“Ma kasih Mas.. Kamu menyerahkan apa yang sekitar ini aku impikan” kata Rita.

“Selama ini pacarku tidak pernah menyerahkan ini semua, asal dia sudah terbit ya telah tanpa mesti mikirin aku” jelas Rita.

Malam tersebut kami istirahat berpelukkan hingga pagi dengan suasana telanjang bulat, aku telah tidak ingat lagi berapa kali menyerahkan kepuasan terhadap Rita. Akan namun yang menciptakan diriku bangga merupakan, aku dapat memberikan kepuasan untuk pasanganku. Karena bikin aku sex bukan milik lelaki seorang namun milik kedua pasangan yang melakukkannya.

Paginya Rita membangkitkan aku tepat pukul 06.00

“Mas.. anter aku ke terminal ya, aku mesti balik nih,” pinta Rita.

“Oke, yuk anda segera bersiap-siap” ajakku.

“Mas, anda janji ya berikan aku laksana ini masing-masing aku mau,” kata Rita.

“Iya sayang, selama anda mau.. Aku bakal berikan” jawabku sarat harap.

Sambil berbicara demikian anda berdua mengarah ke kamar mandi guna mandi bersama. Dan di kamar mandi, guna sekali lagi kita mengerjakan hubungan sex yang sangat luar biasa di bawah guyuran shower. Dan entah berapa kali Rita mereguk kesenangan saat itu. Yang tentu hari tersebut begitu hebat permainan yang aku kerjakan denagn Rita.

Setelah siap, aku check out dan meluncur kearah terminal Bungurasih.

“Kamu hati-hati Rita” seraya aku kecup keningnya.

“Terima kasih Mas bikin permainan semalam dan tadi pagi” kata Rita berterima kasih.

“Kamu memang spektakuler Mas” puji Rita.

Akhirnya tubuh Rita yang semampai bergegas meninggalkan mobilku untuk mengarah ke ke antrean bus mengarah ke kota K. Lambaian tangannya berkali-kjali melambai seiring dengan tubuhnya yang hilang ditelan keramaian terminal.

Hari ini menyisakan kisah yang maha dahsyat sebab permainan sex aku yang dapat diterima oleh pasangan aku. Setelah hari itu, anda berdua tidak jarang saling calling, saling perhatian, saling share dan sering pun janjian untuk sebatas melepas kangen dan diselesaikan dengan permainan sex.

Rita, di antara teman chating aku yang kini entah kemana perginya. Semoga kamu dapat mengenang masa-masa estetis kita ketika berdua. Dan aku masih bercita-cita kamu pulang datang di hari-hariku guna mereguk kesenangan bersama.

Tuesday, April 3, 2018

April 03, 2018

Cerita Sex Ngentot Dengan Atasanku Yang Binal - www.ceritasexnesia.blogspot.com



Mbak Lia tidak cukup lebih baru 2 minggu bekerja sebagai atasanku sebagai Accounting Manager. Sebagai atasan baru, ia tidak jarang memanggilku ke ruang kerjanya untuk menyatakan overbudget yang terjadi pada bulan sebelumnya, atau untuk menyatakan laporan mingguan yang kubuat. Aku sendiri telah termasuk staf senior. Tapi mungkin sebab latar belakang pendidikanku tidak lumayan mendukung, management menyimpulkan merekrutnya. Ia berasal dari suatu perusahaan konsultan keuangan.

Usianya kutaksir selama 25 sampai 30 tahun. Sebagai atasan, sebelumnya kupanggil “Bu”, meski usiaku sendiri 10 tahun di atasnya. Tapi atas permintaanya sendiri, seminggu yang lalu, ia menuliskan lebih suka bila di panggil “Mbak”. Sejak saat tersebut mulai terbina keadaan dan hubungan kerja yang hangat, tidak terlampau formal. Terutama sebab sikapnya yang ramah. Ia tidak jarang langsung menyinggung namaku, sesekali bila sedang bareng rekan kerja lainnya, ia menyinggung “Pak”.

Dan tanpa kusadari pula, diam-diam aku merasa kerasan dan nyaman bila memandang wajahnya yang cantik dan lembut menawan. Ia memang menawan sebab sepasang bola matanya sewaktu-waktu bisa bernar-binar, atau menatap dengan tajam. Tapi di balik tersebut semua, ternyata ia suka mendikte. Mungkin sebab telah menempati jabatan yang lumayan tinggi dalam umur yang relatif muda, keyakinan dirinya pun lumayan tinggi untuk mengajak seseorang mengemban apa yang diinginkannya.

Mbak Lia tidak jarang kali berpakaian formal. Ia tidak jarang kali mengenakan blus dan rok hitam yang agak menggantung tidak banyak di atas lutut. Bila sedang sedang di ruang kerjanya, diam-diam aku juga sering memandang lekukan pinggulnya saat ia bangkit memungut file dari rak folder di belakangnya. Walau unsur bawah roknya lebar, namun aku dapat menyaksikan pinggul yang samar-samar tercetak dari baliknya. Sangat menarik, tidak besar namun jelas bentuknya membongkah, memaksa mata pria menerawang guna mereka-reka keindahannya.

Di dalam ruang kerjanya yang besar, serupa di samping meja kerjanya, ada seperangkat sofa yang tidak jarang dipergunakannya menerima tamu-tamu perusahaan. Sebagai Accounting Manager, tentu tidak jarang kali ada pembicaraan-pembicaraan ‘privacy’ yang lebih nyaman dilaksanakan di ruang kerjanya daripada di ruang rapat.

Aku merasa beruntung bila dipanggil Mbak Lia untuk membicarakan cash flow finansial di kursi sofa itu. Aku tidak jarang kali duduk serupa di depannya. Dan bila kami tercebur dalam percakapan yang lumayan serius, ia tidak menyadari roknya yang agak tersingkap. Di situlah keberuntunganku. Aku bisa melirik beberapa kulit paha yang berwarna gading. Kadang-kadang lututnya agak tidak banyak terbuka sampai-sampai aku berjuang untuk mengintip ujung pahanya. Tapi mataku tidak jarang kali terbentur dalam kegelapan. Andai saja roknya terbuka lebih tinggi dan kedua lututnya lebih terbuka, pasti akan bisa kupastikan apakah bulu-bulu halus yang tumbuh di lengannya pun tumbuh di sepanjang paha sampai ke pangkalnya. Bila kedua lututnya rapat kembali, lirikanku beralih ke betisnya. Betis yang estetis dan bersih. Terawat. Ketika aku terlena menatap kakinya, tiba-tiba aku dikejutkan oleh pertanyaan Mbak Lia..

“Jhony, aku merasa bahwa kau tidak jarang melirik ke arah betisku. Apakah dugaanku salah?” Aku terdiam sejenak seraya tersenyum guna menyembunyikan jantungku yang tiba-tiba berdebar.

“Jhony, salahkah dugaanku?”

“Hmm.., ya, benar Mbak,” jawabku mengaku, jujur. Mbak Lia tersenyum seraya menatap mataku.

“Mengapa?”

Aku membisu. Terasa paling berat membalas pertanyaan simpel itu. Tapi saat menengadah menatap wajahnya, kulihat bola matanya berbinar-binar menantikan jawabanku.

“Saya suka kaki Mbak. Suka betis Mbak. Indah. Dan..,” setelah unik nafas panjang, kukatakan dalil sebenarnya.

“Saya pun sering menduga-duga, apakah kaki Mbak pun ditumbuhi bulu-bulu.”

“Persis laksana yang kuduga, kau pasti berbicara jujur, apa adanya,” kata Mbak Tia seraya sedikit mendorong kursi rodanya.

“Agar kau tidak penasaran menduga-duga, bagaimana bila kuberi peluang memeriksanya sendiri?”

“Sebuah kebesaran besar untukku,” jawabku seraya membungkukan kepala, sengaja sedikit berkelakar untuk mengencerkan pembicaraan yang kaku itu.

“Kompensasinya apa?”

“Sebagai rasa hormat dan tanda terima kasih, bakal kuberikan suatu ciuman.”

“Bagus, aku suka. Bagian mana yang bakal kau cium?”

“Betis yang estetis itu!”

“Hanya suatu ciuman?”

“Seribu kali juga aku bersedia.”

Mbak Tia tersenyum manis dikulum. Ia berjuang manahan tawanya.

“Dan aku yang menilai di unsur mana saja yang mesti kau cium, OK?”

“Deal, my lady!”

“I like it!” kata Mbak Lia seraya bangkit dari sofa.

Ia melangkah ke mejanya lalu unik kursinya sampai ke luar dari kolong mejanya yang besar. Setelah mencampakkan pinggulnya di atas kursi kursi kerjanya yang besar dan lunak itu, Mbak Lia tersenyum. Matanya berbinar-binar seolah menaburkan sejuta daya tarik birahi. Pesona yang memerlukan sanjungan dan pujaan.

“Periksalah, Jhony. Berlutut di depanku!” Aku membisu. Terpana mendengar perintahnya.

“Kau tidak hendak memeriksanya, Jhony?” tanya Mbak Lia seraya sedikit merenggangkan kedua lututnya.

Sejenak, aku berjuang meredakan debar-debar jantungku. Aku belum pernah diperintah laksana itu. Apalagi diperintah guna berlutut oleh seorang wanita. Bibir Mbak Lia masih tetap tersenyum saat ia lebih merenggangkan kedua lututnya.

“Jhony, kau tahu warna apa yang tersembunyi di pangkal pahaku?” Aku menggeleng lemah, seolah terdapat kekuatan yang tiba-tiba merampas sendi-sendi di sekujur tubuhku.

Tatapanku terpaku ke dalam keremangan salah satu celah lutut Mbak Lia yang meregang. Akhirnya aku bangkit menghampirinya, dan berlutut di depannya. Sebelah lututku menyentuh karpet. Wajahku menengadah. Mbak Tia masih tersenyum. Telapak tangannya mengelus pipiku sejumlah kali, lalu beralih ke rambutku, dan sedikit mengurangi kepalaku supaya menunduk ke arah kakinya.

“Ingin tahu warnanya?” Aku mengangguk tak berdaya.

“Kunci dulu pintu itu,” katanya seraya menunjuk pintu ruang kerjanya. Dan dengan patuh aku mengemban perintahnya, lantas berlutut pulang di depannya.

Mbak Lia menopangkan kaki kanannya di atas kaki kirinya. Gerakannya lambat laksana bermalas-malasan. Pada ketika itulah aku mendapat peluang memandang sampai ke pangkal pahanya. Dan kali ini tatapanku terbentur pada secarik kain tipis berwarna putih. Pasti ia menggunakan G-String, kataku dalam hati. Sebelum paha kanannya benar-benar tertopang di atas paha kirinya, aku masih sempat menyaksikan bulu-bulu ikal yang menyembul dari sisi-sisi celana dalamnya. Segitiga tipis yang melulu selebar kira-kira dua jari tersebut terlalu kecil guna menyembunyikan seluruh bulu yang mengitari pangkal pahanya. Bahkan sempat kulirik bayang-bayang lipatan bibir di balik segitiga tipis itu.

“Suka?” Aku mengangguk seraya mengusung kaki kiri Mbak Lia ke atas lututku.

Ujung hak sepatunya terasa agak menusuk. Kulepaskan klip tali sepatunya. Lalu aku menengadah. Sambil mencungkil sepatu itu. Mbak Tia mengangguk. Tak terdapat komentar penolakan. Aku membungkuk kembali. Mengelus-elus pergelangan kakinya. Kakinya mulus tanpa cacat. Ternyata betisnya yang berwarna gading tersebut mulus tanpa bulu halus. Tapi di unsur atas lutut kulihat tidak banyak ditumbuhi bulu-bulu halus yang agak kehitaman. Sangat kontras dengan warna kulitnya. Aku terpana. Mungkinkah mulai dari atas lutut hingga.., hingga.. Aah, aku menghembuskan nafas. Rongga dadaku mulai terasa sesak. Wajahku paling dekat dengan lututnya. Hembusan nafasku ternyata menciptakan bulu-bulu tersebut meremang.

“Indah sekali,” kataku seraya mengelus-elus betisnya. Kenyal.

“Suka, Jhony?” Aku mengangguk.

“Tunjukkan bahwa kau suka. Tunjukkan bahwa betisku indah!”

Aku mengusung kaki Mbak Lia dari lututku. Sambil tetap membelai betisnya, kuluruskan kaki yang menekuk itu. Aku tidak banyak membungkuk supaya dapat mengecup pergelangan kakinya. Pada kecupan yang kedua, aku menjulurkan lidah supaya dapat mengecup seraya menjilat, menyantap kaki estetis itu. Akibat kecupanku, Mbak Lia menurunkan paha kanan dari paha kirinya. Dan tak sengaja, pulang mataku terpesona menyaksikan bagian dalam kanannya. Karena hendak melihat lebih jelas, kugigit unsur bawah roknya kemudian menggerakkan kepalaku ke arah perutnya. Ketika mencungkil gigitanku, kudengar tawa tertahan, kemudian ujung jari-jari tangan Mbak Lia mengusung daguku. Aku menengadah.

“Kurang jelas, Jhony?” Aku mengangguk.


Mbak Lia tersenyum badung sambil mengusap-usap rambutku. Lalu telapak tangannya mengurangi bagian belakang kepalaku sampai-sampai aku membungkuk kembali. Di depan mataku sekarang terpampang keindahan pahanya. Tak pernah aku menyaksikan paha semulus dan seindah itu. Bagian atas pahanya ditumbuhi bulu-bulu halus kehitaman. Bagian dalamnya pun ditumbuhi namun tidak selebat unsur atasnya, dan warna kehitaman tersebut agak memudar. Sangat kontras dengan pahanya yang berwarna gading.

Aku merinding. Karena hendak melihat paha tersebut lebih utuh, kuangkat kaki kanannya lebih tinggi lagi seraya mengecup unsur dalam lututnya. Dan paha tersebut semakin jelas. Menawan. Di paha unsur belakang mulus tanpa bulu. Karena gemas, kukecup berulang kali. Kecupan-kecupanku semakin lama semakin tinggi. Dan ketika melulu berjarak kira-kira selebar telapak tangan dari pangkal pahanya, kecupan-kecupanku pulang menjadi ciuman yang panas dan basah.

Sekarang hidungku paling dekat dengan segitiga yang menutupi pangkal pahanya. Karena paling dekat, meski tersembunyi, dengan jelas bisa kulihat bayang-bayang bibir kewanitaannya. Ada segaris kebasahan terselip membayang di unsur tengah segitiga itu. Kebasahan yang dikelilingi rambut-rambut ikal yang menyelip dari kiri kanan G-stringnya. Sambil menatap daya tarik di depan mataku, aku unik nafas dalam-dalam. Tercium wewangian segar yang membuatku menjadi semakin tak berdaya. Aroma yang memaksaku terperangkap salah satu kedua belah paha Mbak Lia. Ingin kusergap wewangian itu dan menjilat kemulusannya.

Mbak Lia mencampakkan kepalanya ke sandaran kursi. Menarik nafas berulang kali. Sambil mengusap-usap rambutku, diangkatnya kaki kanannya sampai-sampai roknya semakin tersingkap sampai tertahan di atas pangkal paha.

“Suka Jhony?”

“Hmm.. Hmm..!” jawabku bergumam sambil mengalihkan ciuman ke betis dan lutut kirinya.

Lalu kuraih pergelangan kaki kanannya, dan menempatkan telapaknya di pundakku. Kucium lipatan di belakang lututnya. Mbak Lia menggelinjang sambil unik rambutku dengan manja. Lalu saat ciuman-ciumanku merambat ke paha unsur dalam dan semakin lama semakin mendekati pangkal pahanya, terasa tarikan di rambutku semakin keras. Dan saat bibirku mulai mengulum rambut-rambut ikal yang menyembul dari balik G-stringnya, tiba-tiba Mbak Lia mendorong kepalaku.

Aku tertegun. Menengadah. Kami saling menatap. Tak lama kemudian, seraya tersenyum menggoda, Mbak Lia unik telapak kakinya dari pundakku. Ia kemudian menekuk dan menempatkan telapak kaki kanannya di permukaan kursi. Pose yang paling memabukkan. Sebelah kaki menekuk dan tersingkap lebar di atas kursi, dan yang sebelah lagi menjuntai ke karpet.

“Suka Jhony?”

“Hmm.. Hmm..!”

“Jawab!”

“Suka sekali!”

Pemandangan tersebut tak lama. Tiba-tiba saja Mbak Tia merapatkan kedua pahanya sambil unik rambutku.

“Nanti terdapat yang melihat bayang-bayang kita dari balik kaca. Masuk ke dalam, Jhony,” katanya seraya menunjuk kolong mejanya.

Aku terkesima. Mbak Tia merenggut unsur belakang kepalaku, dan menariknya perlahan. Aku tak berdaya. Tarikan perlahan tersebut tak dapat kutolak. Lalu Mbak Lia tiba-tiba membuka ke dua pahanya dan mendaratkan mulut dan hidungku di pangkal paha itu. Kebasahan yang terselip salah satu kedua bibir kewanitaan tampak semakin jelas. Semakin basah. Dan di situlah hidungku mendarat. Aku unik nafas guna menghirup wewangian yang paling menyegarkan. Aroma yang tidak banyak seperti daun pandan tetapi dapat membius saraf-saraf di rongga kepala.

“Suka Jhony?”

“Hmm.. Hmm..!”

“Sekarang masuk ke dalam!” ulangnya seraya menunjuk kolong mejanya.

Aku merangkak ke kolong mejanya. Aku telah tak dapat beranggapan waras. Tak peduli dengan segala kegilaan yang sedang terjadi. Tak peduli dengan etika, dengan norma-norma bercinta, dengan sakral dalam percintaan. Aku melulu peduli dengan kedua belah paha mulus yang akan mengapit leherku, jari-jari tangan lentik yang bakal menjambak rambutku, telapak tangan yang akan mengurangi bagian belakang kepalaku, wewangian semerbak yang bakal menerobos hidung dan mengisi rongga dadaku, kelembutan dan kehangatan dua pembicaraan kewanitaan yang mengapit lidahku, dan tetes-tetes birahi dari bibir kewanitaan yang mesti kujilat berulang kali supaya akhirnya dihadiahi segumpal lendir orgasme yang telah sangat hendak kucucipi.

Di kolong meja, Mbak Lia membuka kedua belah pahanya lebar-lebar. Aku mengulurkan tangan guna meraba celah basah salah satu pahanya. Tapi ia menepis tanganku.

“Hanya lidah, Jhony! OK?”

Aku mengangguk. Dan dengan cepat menenggelamkan wajahku di G-string yang menutupi pangkal pahanya. Menggosok-gosokkan hidungku seraya menghirup wewangian pandan tersebut sedalam-dalamnya. Mbak Lia terkejut sejenak, kemudian ia tertawa manja seraya mengusap-usap rambutku.

“Rupanya kau telah tidak sabar ya, Jhony?” katanya seraya melingkarkan pahanya di leherku.

“Hm..!”

“Haus?”

“Hm!”

“Jawab, Jhony!” katanya seraya menyelipkan tangannya guna mengusung daguku. Aku menengadah.

“Haus!” jawabku singkat.

Tangan Mbak Lia bergerak mencungkil tali G-string yang terbelenggu di kiri dan kanan pinggulnya. Aku terpana menatap keindahan dua pembicaraan berwarna merah yang basah mengkilap. Sepasang bibir yang di unsur atasnya dihiasi tonjolan daging pembungkus clit yang berwarna pink. Aku termangu menatap keindahan yang terpampang serupa di depan mataku.

“Jangan diam saja. Jhony!” kata Mbak Lia sambil mengurangi bagian belakang kepalaku.

“Hirup aromanya!” sambungnya sambil mengurangi kepalaku sampai-sampai hidungku terselip salah satu bibir kewanitaannya.

Pahanya mengapit leherku sampai-sampai aku mustahil bergerak. Bibirku terjepit dan tertekan salah satu dubur dan unsur bawah vaginanya. Karena mesti bernafas, aku tak memiliki pilihan kecuali mencium udara dari celah bibir kewanitaannya. Hanya tidak banyak udara yang bisa kuhirup, sesak namun menyenangkan. Aku menghunjamkan hidungku lebih dalam lagi. Mbak Lia terpekik. Pinggulnya diusung dan digosok-gosokkannya dengan liar sampai hidungku basah berlumuran tetes-tetes birahi yang mulai mengalir dari sumbernya. Aku mendengus. Mbak Lia menggelinjang dan pulang mengusung pinggulnya. Kuhirup wewangian kewanitaannya dalam-dalam, seolah vaginanya ialah nafas kehidupannku.

“Fantastis!” kata Mbak Lia seraya mendorong kepalaku dengan lembut. Aku menengadah. Ia tersenyum menatap hidungku yang sudah licin dan basah.

“Enak ‘kan?” sambungnya sambil mengelus ujung hidungku.

“Segar!” Mbak Lia tertawa kecil.

“Kau pandai memanjakanku, Jhony. Sekarang, kecup, jilat, dan hisap sepuas-puasmu. Tunjukkan bahwa kau memuja ini,” katanya seraya menyibakkan rambut-rambut ikal yang beberapa menutupi bibir kewanitaannya.

“Jilat dan hisap dengan rakus. Tunjukkan bahwa kau memujanya. Tunjukkan rasa hausmu! Jangan terdapat setetes juga yang tersisa! Tunjukkan dengan rakus seolah ini ialah kesempatan kesatu dan yang terakhir bagimu!”

Aku terpengaruh dengan kata-katanya. Aku tak peduli walaupun terdapat nada perintah di masing-masing kalimat yang diucapkannya. Aku memang merasa paling lapar dan haus guna mereguk kelembutan dan kehangatan vaginanya. Kerongkonganku terasa panas dan kering. Aku merasa benar-benar haus dan hendak segera menemukan segumpal lendir yang bakal dihadiahkannya untuk mengairi kerongkongannku. Lalu bibir kewanitaannya kukulum dan kuhisap supaya semua kebasahan yang melekat di situ mengalir ke kerongkonganku. Kedua bibir kewanitaannya kuhisap-hisap bergantian.

Kepala Mbak Lia terkulai di sandaran kursinya. Kaki kanannya melingkar mengapit leherku. Telapak kaki kirinya memasuki bahuku. Pinggulnya terangkat dan terhempas di kursi berulang kali. Sesekali pinggul tersebut berputar memburu lidahku yang bergerak binal di dinding kewanitaannya. Ia mengerang setiap kali lidahku menjilat clitnya. Nafasnya mengebu. Kadang-kadang ia memekik seraya menjambak rambutku.

“Ooh, ooh, Jhony! Jhony!” Dan saat clitnya kujepit salah satu bibirku, kemudian kuhisap dan permainkan dengan ujung lidahku, Mbak Lia mengerang menyebut-nyebut namaku..

“Jhony, nikmat sekali sayang.. Jhony! Ooh.. Jhony!”

Ia menjadi liar. Telapak kakinya menghentak-hentak di bahu dan kepalaku. Paha kanannya telah tidak melilit leherku. Kaki tersebut sekarang diusung dan tertekuk di kursinya. Mengangkang. Telapaknya memasuki kursi. Sebagai gantinya, kedua tangan Mbak Lia menjambak rambutku. Menekan dan menggerak-gerakkan kepalaku sekehendak hatinya.

“Jhony, julurkan lidahmuu! Hisap! Hisaap!”

Aku menjulurkan lidah sedalam-dalamnya. Membenamkan wajahku di vaginanya. Dan mulai kurasakan kedutan-kedutan di bibir vaginanya, kedutan yang menghisap lidahku, mengundang supaya masuk lebih dalam. Beberapa detik kemudian, lendir mulai terasa di ujung lidahku. Kuhisap semua vaginanya. Aku tak hendak ada setetes juga yang terbuang. Inilah hadiah yang kutunggu-tunggu. Hadiah yang bisa menyejukkan kerongkonganku yang kering. Kedua bibirku kubenamkan sedalam-dalamnya supaya dapat langsung menghisap dari bibir vaginanya yang mungil.

“Jhony! Hisap Jhony!”

Aku tak tahu apakah rintihan Mbak Lia dapat tersiar dari luar ruang kerjanya. Seandainya rintihan tersebut terdengar pun, aku tak peduli. Aku melulu peduli dengan lendir yang bisa kuhisap dan kutelan. Lendir yang melulu segumpal kecil, hangat, kecut, yang mengalir mengairi kerongkonganku. Lendir yang langsung tercurah dari vagina Mbak Lia, dari pinggul yang terangkat supaya lidahku terhunjam dalam.

“Oh, fantastis,” gumam Mbak Lia seraya menghenyakkan pulang pinggulnya ke atas kursinya.

Ia membungkuk dan mengusap-usap kedua belah pipiku. Tak lama kemudian, jari tangannya menengadahkan daguku. Sejenak aku berhenti menjilat-jilat sisa-sisa cairan di permukaan kewanitaannya.

“Aku puas sekali, Jhony,” katanya. Kami saling menatap. Matanya berbinar-binar. Sayu. Ada kelembutan yang menyemprot dari bola matanya yang menatap sendu.

“Jhony.”

“Hm..”

“Tatap mataku, Jhony.” Aku menatap bola matanya.

“Jilat cairan yang tersisa hingga bersih”

“Hm..” jawabku seraya mulai menjilati vaginanya.

“Jangan menunduk, Jhony. Jilat seraya menatap mataku. Aku hendak melihat erotisme di bola matamu saat menjilat-jilat vaginaku.”


Aku menengadah guna menatap matanya. Sambil melingkarkan kedua lenganku di pinggulnya, aku mulai menjilat dan menghisap pulang cairan lendir yang tersisa di lipatan-lipatan bibir kewanitaannya.

“Kau memujaku, Jhony?”

“Ya, aku memuja betismu, pahamu, dan di atas segalanya, yang ini.., muuah!” jawabku sambil menghirup kewanitaannya dengan mesra sepenuh hati.

Mbak Lia tersenyum manja seraya mengusap-usap rambutku.